Tautan Emosi dan Pikiranku

Mainan dan Permainan Lama

Kulit jeruk bali itu tebal dan empuk sehingga mudah diiris-iris dengan pisau. Aku membentuknya mirip seperti perahu yang belum jadi, ujung depan dan belakangnya sama-sama melengkung keatas. Kubuat semacam roda berbentuk bulat pipih walaupun tidak terlalu bulat, susah membentuk bulatan waktu itu, ilmuku belum cukup atau lebih tepatnya ketrampilan belum memadai untuk hanya sekedar membuat bulatan dari kulit jeruk.

Waktu kecil sering kumainkan mainan dari kulit jeruk bali (jeruk keprok; istilah jawa) dagingnya manis asam dengan aroma khas yang agak menyengat. Diantara yang paling suka saya buat mainan selain kulit jeruk adalah antung uler jedung (kepompong ulat gajah), anak dari kupu gajah, Atlas moth (Attacus atlas). Sekarang sudah tidak pernah lagi melihat kupu-kupu seperti itu di sekitar rumah, sudah musnah mungkin karena sering saya buat mainan atau karena pengaruh insektisida dari bahan-bahan kimia yang merusak rantai makanannya. Kepompong yang ulatnya sudah mulai membentuk bakal calon kupu-kupu aku ambil-maaf ya kepompong– selaput sutranya kuat sehingga harus dipotong dengan gunting. Kupotong sepertiga dari panjang kepompong lalu kupasang batu pecahan bekas genteng berbentuk bulat pipih di bagian lubangnya. Cara memainkannya adalah dengan melempar pendek ke lantai. Karena bentuknya yang agak panjang oval dan ringan, maka batu kereweng itu selalu berada dibawah sehingga posisi kepompong selalu berdiri, unik dan sangat menyenangkan, pikirku waktu itu. Maaf juga samberlilen, dulu saya sering mengambilmu dengan paksa dari rumahmu yang nyaman di pohon kacang-kacangan. Ya, samberlilen juga sering saya buat mainan, warnanya menawan, merah berkilauan. Yang unik dari hewan ini adalah jika ditaruh di tangan dia tidak akan terbang sebelum berjalan sampai pada ujung jari.

1210170836bQxCHS9

Gambar : samberlilen

http://www.fotografer.net/isi/galeri/foto.php?id=847549&s=1

Permainan dan mainan yang saya mainkan dulu sangat beragam sehingga setiap hari ada saja yang bisa dijadikan mainan. Ada semacam kesepakatan tak tertulis kapan suatu permainan harus dimainkan dalam waktu-waktu tertentu, seperti musim panen yang ketika tiba semua ayam-ayam akan menjadi gemuk-gemuk karena mendapat makanan gratis dari sisa-sisa para pemanen padi.

Permainan-permainan lain yang sampai sekarang masih saya ingat dan mulai langka diantaranya adalah :

Sekitan (petak umpet),

Pel-pelan, e-nya dibaca seperti membaca kain pel (batu kereweng yang disusun keatas kemudian para pemain melempar sampai tumpukan itu jatuh berantakan),

Siri gendem (mata ditutup kemudian disuruh menangkap teman yang ikut bermain),

Betengan, e-nya dibaca seperti membaca tari ronggeng (saling merebutkan daerah kekuasaan dengan menggunakan sarana pohon sebagai benteng kekuasaan),

Jedulan, (bambu seukuran jari orang dewasa yang diisi buah rempeni dan ditusuk dengan bambu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga bisa berbunyi seperti pistol),

Sondah, (membuat gambar kotak di tanah mirip seperti pesawat terbang kemudian melangkah maju mundur sesuai dengan jumlah kotak yang telah digambar),

Jentik (kayu kecil yang dipotong sepanjang dua jengkal untuk induknya dan satu jengkal untuk anaknya). Cara mainnya dengan menaruh dua buah bata di tanah yang digunakan untuk menaruh jentik. Disini ada istilah patil lele yaitu menaruh anak jentik di antara hidung dan mulut kemudian dipukul dengan induk jentik,

Dakon (ini yang paling terkenal sebagai ikon masyarakat jawa, yaitu sebuah kayu tebal yang diberi lubang berjumlah-kalau tidak salah-22 lubang dan menggunakan batu kerikil sebagai alat pengisi lubang tersebut,

Godongan (menyebut nama-nama dedaunan yang daunnya bisa diraih dan dipegang, jika pemain tidak bisa menyentuh daun yang disebutkan tadi maka dia akan ditangkap. Dan masih banyak mainan dan permainan lain yang lupa-lupa ingat nama dan cara memainkannya.

Diantara permainan yang lupa namanya adalah sebuah batu berbentuk lempengan seberat kira-kira lima kiloan. Batu diberdirikan kemudian dilempar dengan batu lain yang agak kecil sampai ada yang bisa menjatuhkan batu tersebut. Di belakang batu tersebut pemain mempertaruhkan beberapa bungkus permen (lupa namanya, bungkusnya tidak seperti bungkus permen sekarang) sesuai kesepakatan.  Ada juga permainan; anak yang jadi mengejar musuhnya tetapi dia tidak boleh menyentuh jika musuhnya berpura-pura jadi pohon dan harus nempel dipohon dengan kaki menggelantung.

Permainan dan mainan-mainan kami waktu kecil sudah cukup menghibur sehingga kami bisa dianggap bukan sebagai anak-anak yang mengalami masa kecil kurang bahagia. Jati diri anak-anak adalah bermain, hanya itu masa-masa dimana manusia mengalami kebahagiaan dalam arti yang sebenarnya, jauh dari hiruk pikuk permainan orang-orang dewasa yang kadang tidak berjalan dengan jujur dan semestinya.

———

Gambar :

http://www.kaskus.us/showthread.php?p=65366287 http://ichsany.wordpress.com/2007/02/

http://jklmn2007.blogspot.com/2008/01/atlas-moth-ver-11.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s