Tautan Emosi dan Pikiranku

Kebosanan Di Titik Nol

Kemarin sempat jalan-jalan ke Cianjur diajak teman. Berempat kami berangkat dengan mengendarai mobil pribadi milik seorang juragan kontrakan, asli orang betawi yang kebetulan mertua teman saya. Menuju daerah pelosok yang lumayan tinggi di pegunungan Cianjur. Perjalanan lumayan lama sekitar dua jam lebih. Ternyata jalan yang kami lalui tidak seindah yang dibayangkan. Banyak lubang dimana-mana. Yang ada di pikiran saya adalah jalan yang hanya berjarak puluhan kilo dari Jakarta saja seperti ini, bagaimana dengan yang jauh dengan Ibukota. Tapi, ah, sudahlah..! saya tidak tertarik menceritakan tentang jalan rusak, karena itu hanya akan menjadi cerita klasik yang lebih membosankan daripada cerita tentang jejaka tua yang sedang mencari cinta, atau bahasa gaulnya “sedang ingin menikah”. lah, bahasa gaul katanya.

Membosankan..! ya, kata itulah yang sekarang sedang mengendap di kepala saya, di rambut, dan di sekujur tubuh. Membosankan seperti orang sedang melihat tembok putih selama berjam-jam. Yang ada hanya warna putih, semakin lama warnanya menjadi pudar, sedikit lusuh, coklat, dan kotor. Seperti itulah pada akhirnya warna putih pada tembok.

Kembali ke cerita jalan-jalan. Kami sampai di vila milik orang jakarta yang kebetulan penunggunya adalah kakak teman saya sendiri dari Cianjur. Jadi kami seperti semut yang mengais tetesan gula cair yang jatuh dari meja-meja orang kaya, atau kata sederhananya “numpang menikmati hidup seperti mereka”. Hilanglah sudah penderitaan kami sesampainya di vila setelah perjalanan melewati kerikil-kerikil sebesar dua genggaman orang dewasa yang tersebar hampir di setiap jalan menanjak menuju vila. Hari sudah gelap hampir maghrib disambut dengan suasana gelap vila yang membuat saya heran. Vila ko gelap sekali, pikirku, seperti rumah hantu, hii..! ternyata usut punya usut penunggu vila bercerita kalau rekening listrik belum di bayar oleh pemilik vila selama 22 bulan. Jadi listrik terpaksa diputus oleh PLN, ladalah..!

Akhirnya kami hanya bisa menunggu, sambil diterangi lampu lilin, berharap pagi segera datang agar bisa menikmati suasana pegunungan yang asri di vila seharga satu milyar yang sedang mati suri itu. Beruntung penunggu vila sangat baik. Kami dibuatkan air panas untuk menyeduh kopi dan sedikit panganan dari ketan dan pisang yang di goreng.

Suasana sangat sunyi, senyap, hanya suara jangkrik dan binatang malam yang terdengar. Masing-masing dari kami saling diam. Ada yang asyik menikmati rokok, ada yang makan pisang sambil ngopi. Ada yang hanya diam saja dari pertama datang, terkesan tidak menikmati suasana malam itu. Tiba-tiba, byarr !! lampu vila menyala, sebentar mati, sebentar menyala. Kami menjadi terheran-heran dan sedikit takut penuh pertanyaan, dari mana sumber listriknya berasal. Belum hilang rasa penasaran kami tiba-tiba terdengar suara dari belakang vila bagian dapur, “oh, berarti dinyalain tetangga sebelah, mungkin dikira yang datang, boss, mungkin tadi melihat ada yang datang bawa mobil. Jadi listrik-sesuai perjanjian- harus dinyalakan”.

Oh, begitu. Rupanya tetangga sebelah yang juga punya vila telah sepakat membagi listriknya dengan vila yang kami tumpangi, tetapi hanya dihidupkan jika si boss (sebutan untuk pemilik vila, pen) datang. Haha.. rupanya kita dikira boss. Ya, lumayan lah jadi boss sehari semalam.

Pagi menjelang, suasana tidur yang nyaman terganggu oleh suara berisik langkah kaki salah satu teman saya yang dahuluan bangun, eh ternyata dia tidak tidur semalam, mungkin karena terbiasa terjaga karena setiap malam kebagian sift kerja.

Setelah kami melaksanakan sholat subuh yang waktunya tinggal sedikit, langsung berkeliling vila melihat-lihat pemandangan, wah, indahnya alam ini. Vila kami tepat di atas bukit yang paling tinggi, suasananya segar, sejuk ditambah cahaya matahari yang mulai muncul mungil dari ufuk timur, tiba-tiba saya ingin berpuisi, tapi malu karena takut dibilang orang gila :). Terkabul sudah keinginan kami untuk merefresh pikiran yang penat dan letih.

Tapi…

Tapi…

Sepinya suasana membuat saya merenung sejenak, sambil sesekali menarsiskan diri dengan kamera digital sony 5.0 Mega Pixel. Yang terbersit dipikiran saya saat itu selain rasa damai adalah perasaan bosan yang amat sangat membosankan, entah apa yang membuat saya menjadi bosan.

Hmm.. seandainya yang memotret adalah anak atau istri saya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s