Tautan Emosi dan Pikiranku

Oh, Burung Gelatik Itu…

Burung gelatik jawa. Sumber : http://www.balurannationalpark.web.id

Satu hal yang selalu membuat kuping saya terngiang saat melihat burung gelatik adalah pengalaman diwaktu kecil.  Entah itu burung gelatik beneran atau hanya gambarnya saja. Seperti saat ini, tidak sengaja melihat photo burung gelatik di internet yang sangat cantik. Burung gelatik jawa, begitu nama yang pas untuk menggambarkan keindahan burung ini yang memang terkenal dari daerah asalnya, pulau jawa.

Waktu kecil saya sempat punya bubungan emosional yang sangat dalam dengan burung ini. Burung gelatik ini sempat membuat hari-hariku terasa menyenangkan karena bisa berteman dengan burung pertama yang bisa kubesarkan sendiri dengan tanganku sepenuh hati. Mungkin jika aku ditanya “kepada siapa cinta pertamamu berlabuh, mal?” saya akan menjawab “burung gelatik”. Ya waktu itu ayahku yang pulang dari mengajar di sekolah dasar membawakanku burung yang mungil, masih anak-anak dan belum bisa terbang. Aku merawatnya dengan memberi makan beras menir (butiran beras yang dibuang sebelum dimasak). Dengan penuh cinta aku menyuapi setiap pagi, siang, sore. Pokoknya kapan burung itu bercicit minta makan maka sang induk angkat ini akan menyuapinya.

Kalau orang jawa bilang “lulut, pomah” atau dalam bahasa indonesia “jinak”. Tapi bahasa daerah saya sendiri menyebutnya “cumbu”. Istilah yang menggambarkan binatang sudah seperti anaknya sendiri. Kemana induknya pergi maka disitulah anaknya akan ikut. Begitulah gambaran burung gelatikku yang sudah mulai dewasa. Tapi ah, malang! karena kelengahanku sendiri, sangkar yang seharusnya aku taruh diatas malah aku taruh di tanah yang tersinari matahari demi memberikan sinar pagi yang hangat pada burung gelatikku.

“Mal.., Kucing ! burungmu dimakan kucing” begitu kira-kira kata yang saya ingat saat ibuku berteriak kencang, padahal baru saja saya masuk kedalam rumah untuk mengambil sesuatu. Ah, kasihan.. aku tidak sempat menyelamatkan burung gelatikku yang sudah berada di moncong kucing sialan itu. Aku berusaha mengejar kucing itu sambil kulempar dengan batu. Kucing itupun tunggang langgang dan akhirnya menyerah. Dilepaskannya burung gelatikku yang sudah tak berdaya.

Aku terlambat, hembusan nafas terakhirnya sempat aku lihat dari gerak tubuhnya yang bergerak pelan, turun dan tak bergerak lagi. “Burung gelatikku mati, hiks”.

Aku menguburkan burung gelatik itu di pojok belakang rumah. Aku hiasi dengan nisan dari lidi daun kelapa serta aku taburkan bunga-bungaan yang sudah kucerai beraikan dari sang tangkai. Berlebihan ! ah, tidak. Saya masih kecil. Pikir saya waktu itu jika seseorang meninggal biasanya diberi nisan dan taburan bunga diatas kuburnya. Kamal kecil juga melakukan hal itu karena menganggap burung juga seperti manusia, makan, minum dan hidup layaknya manusia. Rasanya pedih sekali kehilangan teman kecilku.

Kawan, berapa kali dalam hidupmu engkau merasa kehilangan ?

Advertisements

8 responses

  1. Ku hidup di Jakarta dimulai dari kemayoran sampe tomang mal anggrek masih sawah sawah dan ku masih lihat orang memanen padi menggunakan ani ani alat potong padi waktu itu.Dan ku sering kali mencari burung gelatik dipersawahan,karena sebenarnya gelatik bisa jadi burung jinak penurut kalo dipelihara dari anakan,karena sekarang sudah punah di alamnya,ku hendak coba tuk menernakannya.kalo sudah bisa banyak nanti akan kulepaskan dan ku beritanda ”lepaskan”.dan yang membaca ini ku berharap mau melakukan seperti yang ku buat demikian terimakasih

    April 13, 2010 at 12:24 pm

    • iya, bagus niatnya memang klo tidak ada yg peduli lagi dengan satwa-satwa cantik itu anak cucu kita tidak akan bisa lagi melihatnya…

      saya juga punya keinginan seperti anda

      Selamat berjuang

      April 15, 2010 at 3:16 am

  2. aq pya sepasang glatik [ silver + putih } , n tdk tau jantan betinnya . ini pemberian saudara dari Madura…… dia bisa memperbanyak anakkannya , sdngknaq belumberhasil. moga2 klo dah bnyak akn aq lepaskan di alam bebas……..

    August 30, 2010 at 11:59 pm

  3. terimakasih buat yg mau memperhatikan burung gelatik apalagi mengembang biakan dan kemudian melepaskanya di alam bebas tetapi tolong kasih gelang bertuliskan ‘lepaskan’ dikaki kanan ‘bebaskan’ dikaki kiri dan tulisan ini harap disebar luaskan dimasyarakat.demikian terimakasih

    October 19, 2010 at 1:59 pm

  4. Saya jg pernah kehilangan burung glatik karena lepas dari sangkarnya, sudah 20 tahunan silam tp sampe sekarangpun masih teringat rasa kecewa dihati..sekarang ingin lihat lagi burung glatik di alam tp ditempat saya sudah punah..

    November 22, 2010 at 4:20 pm

  5. sebagai sesama orang desa, aku sangat bisa mengerti dan merasakan ikatan emosional itu. Di jaman kecilku dulu, burung kayak gitu buanyak sekali di jual di pasar burung. Jalak juga masih banyak. Indahnyaa masa kecil…

    April 10, 2011 at 1:01 pm

  6. aku dulu juga punya gelatik, tp lepas karena sangkar belum ku tutup waktu bersihin kandang

    May 19, 2011 at 3:53 pm

  7. aku baru berencana mau beli, sepasang 100ribu. 🙂
    mogamoga segera dapet duit. he.he..

    August 25, 2012 at 8:27 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s