Tautan Emosi dan Pikiranku

Archive for February, 2010

Menyederhanakan Masalah

Teman saya pernah berkata pada saya “disederhanakan saja lho masalahnya”. Entah saat itu saya sedang mengalami masalah apa, tapi kata-katanya begitu saya ingat sampai sekarang. Kata-kata yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

“Menyederhanakan masalah”. Sepertinya kata-kata itu sangat ampuh untuk membantu menguatkan pikiran saya dalam menyelesaikan setiap masalah yang timbul dalam kehidupan ini, dan ternyata memang selalu berhasil, paling tidak membuat saya tidak mudah putus asa dengan masalah yang setiap saat muncul dalam kehidupan ini. Toh hidup memang sebuah rangkaian untuk menyelesaikan masalah.

Kawan, pernahkan dalam kehidupan anda merasa mengalami masalah yang terasa sangat berat, bahkan sangat berat sekali hingga membuat otak ini rasanya tidak kuat lagi menampung enzim-enzim yang membantu otak berfikir. “Kepala rasanya mau pecah”. Begitu kira-kira rasanya.

Kadar kekuatan pikiran seseorang memang diciptakan berbeda. Ada orang yang memiliki masalah yang sama dengan orang lain tapi orang tersebut menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda. Orang pertama merasa masalahnya bisa menyita seluruh hidupnya, sedangkan orang kedua menyelesaikan masalahnya dengan santai. Dan dengan sedikit langkah sederhana saja, masalah itupun teratasi.

Saya sendiri sejak kecil merasa bahwa masalah ini tidak pernah selesai. Dari mulai potongan rambut dan mode pakaian yang tidak necis, masalah pelajaran disekolah, intimidasi teman sekolah, sampai dengan ketakutan menghadapi murid-murid baru dalam program pelatihan lapangan di bangku kuliah. Dan puncaknya adalah saya harus rela menangis di depan perempuan karena sudah tidak kuat lagi memendam masalah yang begitu berat kurasa. Sampai suatu saat saya mendengar kata indah yang sangat memotivasi pada paragraf pertama diatas.

Kebetulan saya terlahir sebagai — apa yang dikatakan orang — introvert. Atau lebih tepatnya gambaran harfiyahnya adalah orang yang kurang percaya diri. Untungnya, Carl Gustav Jung yang pertama kali menggunakan istilah introvert menganggap bahwa orang-orang introvert adalah mereka yang terampil dalam melakukan perjalanan ke dunia dalam, yaitu diri mereka sendiri. Mereka selalu mencoba memahami diri mereka sendiri dengan melakukan banyak perenungan dan berkontemplasi. Pada akhirnya mereka menjadi orang yang memahami dirinya, berpendirian keras, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain, dan mengetahui apa yang menjadi tujuan dalam hidupnya. Hanya saja karena terlalu sibuk dengan dirinya sendiri menjadikan “penderita” introvert kurang peka terhadap lingkungan sekitar sehingga lingkungannya menjadi tidak bisa memahami orang-orang introvert dan lebih parahnya menganggapnya sebagai orang aneh, mungkin karena kebanyakan orang introvert tidak mempunyai kemampuan komunikasi yang baik.

Akan tetapi saya tetap menghibur diri dengan mengatakan bahwa saya bukan orang yang terlalu introvert belakangan ini. Mungkin semenjak mengenal kata “menyederhanakan masalah” yang diutarakan teman saya tadi. Saya menjadi sedikit terbuka dengan orang lain, berusaha menjadi pendengar yang baik karena saya sadar tidak mungkin bisa menjadi pembicara yang baik, dan mencoba memahami mereka dengan cara pandang yang terdeskripsi menjadi pertanyaan “apa yang melatar belakangi orang melakukan itu?” bukan dengan sebuah pernyataan seolah menghakimi, “ah, bodohnya dirimu, begitu saja tidak becus ! pasti engkau dilahirkan dari batang pohon pisang”.

Kadang saya menjadi orang yang sangat menikmati sebuah masalah, mentertawakannya dan mempermainkan masalah itu layaknya sebuah permainan hidup. Jika masalah terasa sangat berat, saya yakin jika saya tidak bisa mengatasi, suatu saat dia pasti akan berlalu dengan sendirinya. Dan itu selalu berhasil, tentu saja saya tetap sebagai seorang yang berpaham religi masih percaya terhadap kekuatan yang tidak terlihat tapi ada yaitu “doa”. Dan tentu saja kata ajaib yang tetap selalu saya pegang yaitu : “disederhanakan saja lho masalahnya”.

PS : Untuk engkau yang sedang dirundung masalah, ingatkah sejak engkau kecil sampai sekarang, pernahkah masalah yang hinggap di hidupmu tidak pernah terselesaikan atau tidak ada jalan keluarnya ? Aku rasa tidak pernah.

sumber gambar : kushinryu.files.wordpress.com

Advertisements

Mengenal Kota Nuuk, Greenland

sumber : wikipedia.org

Hmm.. nama yang aneh. Ya, Nuuk adalah sebuah nama untuk ibu kota greenland. Sebuah pulau terbesar di dunia, terletak di daerah kutub utara sebelah selatan Arctic Ocean. Saya sendiri baru tahu nama kota ini setelah berkelana keliling dunia menggunakan aplikasi google earth. Ah, namanya juga “wong ndeso”. Jadi maklum kalau saya baru tahu sekarang. “Hei… kemana saja kamu selama ini, mal ?”

sumber : benlo.com

Menurut data yang dihimpun wikipedia, Nuuk mempunyai penduduk sebanyak 15.047 jiwa (Januari 2007) dan 11.862 darinya lahir di Greenland. Pendapatan dari penduduk “tanah hijau” ini kebanyakan adalah dari produk bahari, peternakan domba dan pertambangan.

Sumber : benlo.com

Ketika melihat rumah penduduk kota Nuuk, saya seperti melihat rumah mainan anak-anak. Warnanya kebanyakan cerah dengan warna-warni yang mencolok. Hmm.. berasa di negeri kartun.

Salah satu dermaga kota Nuuk dilihat dari google earth


Sudut kota Nuuk dilihat dari Google Earth

Apakah saya sendirian yang belum tahu ?


Night Shot Photography

Metadata:
Flash Mode: No Flash
Focal Length: 38 mm
Apperture: F/9
Shutter Speed: 8 seconds
ISO: 800
Metering Mode: Pattern
Exposure Program: Manual
Date Taken: 9 May 2009, 07:05 PM

Photografer : Galih Satria

source : blog.galihsatria.com


Jiwa Jiwa Yang Kesepian

Wajahku pucat pasi
Melihat dengan lensa ciptaan Tuhan yang terlihat mengembun
Mungkin karena air mataku sedikit hangat
Hingga air itupun menguap dari nozzle menjadi butiran halus
Dan menempel pada kaca elastis didepan mataku ini

Aku tertunduk lesu tidak tahu apa sebabnya
Air mataku tak henti-hentinya mengikuti atmosfir yang telah dibentuk oleh alam
Jatuh menelusuri permukaan sel kulit dalam untaian mikroskopik
Dari lensa okuler terlihat seperti daratan berair yang penuh dengan jurang terjal dan curam

Aku ingin berteriak memanggilmu
Tapi tak perlu
Mungkin saat ini engkau sedang berada disampingku
Atau setiap hari mengawasiku
Karena engkau adalah jiwa dari jasad yang sedang menungguku

Jiwa itu seperti cahaya
Tidak bisa dibendung
Bisa terbias kemanapun dia mau
Bahkan merasuki mimpi ketika jasad sedang terlelap

Aku pernah mimpi melihat bulan
Yang warnanya putih keabu-abuan
Mungkin saat itu engkau sedang disana
Menungguku untuk menjemputmu
Aku rasa bayanganmu menutupi matahari
Hingga warna bulan tidak menarik lagi

Jika saja kau tau aku sekarang sedang apa
Mungkin kau akan rela meninggalkan bulan itu
Atau jika saja aku tau engkau sedang apa
Mungkin aku akan berusaha menjemputmu

Mungkin…!

Jakarta, ‘10