Tautan Emosi dan Pikiranku

Jiwa Jiwa Yang Kesepian

Wajahku pucat pasi
Melihat dengan lensa ciptaan Tuhan yang terlihat mengembun
Mungkin karena air mataku sedikit hangat
Hingga air itupun menguap dari nozzle menjadi butiran halus
Dan menempel pada kaca elastis didepan mataku ini

Aku tertunduk lesu tidak tahu apa sebabnya
Air mataku tak henti-hentinya mengikuti atmosfir yang telah dibentuk oleh alam
Jatuh menelusuri permukaan sel kulit dalam untaian mikroskopik
Dari lensa okuler terlihat seperti daratan berair yang penuh dengan jurang terjal dan curam

Aku ingin berteriak memanggilmu
Tapi tak perlu
Mungkin saat ini engkau sedang berada disampingku
Atau setiap hari mengawasiku
Karena engkau adalah jiwa dari jasad yang sedang menungguku

Jiwa itu seperti cahaya
Tidak bisa dibendung
Bisa terbias kemanapun dia mau
Bahkan merasuki mimpi ketika jasad sedang terlelap

Aku pernah mimpi melihat bulan
Yang warnanya putih keabu-abuan
Mungkin saat itu engkau sedang disana
Menungguku untuk menjemputmu
Aku rasa bayanganmu menutupi matahari
Hingga warna bulan tidak menarik lagi

Jika saja kau tau aku sekarang sedang apa
Mungkin kau akan rela meninggalkan bulan itu
Atau jika saja aku tau engkau sedang apa
Mungkin aku akan berusaha menjemputmu

Mungkin…!

Jakarta, ‘10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s