Tautan Emosi dan Pikiranku

Menyederhanakan Masalah

Teman saya pernah berkata pada saya “disederhanakan saja lho masalahnya”. Entah saat itu saya sedang mengalami masalah apa, tapi kata-katanya begitu saya ingat sampai sekarang. Kata-kata yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

“Menyederhanakan masalah”. Sepertinya kata-kata itu sangat ampuh untuk membantu menguatkan pikiran saya dalam menyelesaikan setiap masalah yang timbul dalam kehidupan ini, dan ternyata memang selalu berhasil, paling tidak membuat saya tidak mudah putus asa dengan masalah yang setiap saat muncul dalam kehidupan ini. Toh hidup memang sebuah rangkaian untuk menyelesaikan masalah.

Kawan, pernahkan dalam kehidupan anda merasa mengalami masalah yang terasa sangat berat, bahkan sangat berat sekali hingga membuat otak ini rasanya tidak kuat lagi menampung enzim-enzim yang membantu otak berfikir. “Kepala rasanya mau pecah”. Begitu kira-kira rasanya.

Kadar kekuatan pikiran seseorang memang diciptakan berbeda. Ada orang yang memiliki masalah yang sama dengan orang lain tapi orang tersebut menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda. Orang pertama merasa masalahnya bisa menyita seluruh hidupnya, sedangkan orang kedua menyelesaikan masalahnya dengan santai. Dan dengan sedikit langkah sederhana saja, masalah itupun teratasi.

Saya sendiri sejak kecil merasa bahwa masalah ini tidak pernah selesai. Dari mulai potongan rambut dan mode pakaian yang tidak necis, masalah pelajaran disekolah, intimidasi teman sekolah, sampai dengan ketakutan menghadapi murid-murid baru dalam program pelatihan lapangan di bangku kuliah. Dan puncaknya adalah saya harus rela menangis di depan perempuan karena sudah tidak kuat lagi memendam masalah yang begitu berat kurasa. Sampai suatu saat saya mendengar kata indah yang sangat memotivasi pada paragraf pertama diatas.

Kebetulan saya terlahir sebagai — apa yang dikatakan orang — introvert. Atau lebih tepatnya gambaran harfiyahnya adalah orang yang kurang percaya diri. Untungnya, Carl Gustav Jung yang pertama kali menggunakan istilah introvert menganggap bahwa orang-orang introvert adalah mereka yang terampil dalam melakukan perjalanan ke dunia dalam, yaitu diri mereka sendiri. Mereka selalu mencoba memahami diri mereka sendiri dengan melakukan banyak perenungan dan berkontemplasi. Pada akhirnya mereka menjadi orang yang memahami dirinya, berpendirian keras, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain, dan mengetahui apa yang menjadi tujuan dalam hidupnya. Hanya saja karena terlalu sibuk dengan dirinya sendiri menjadikan “penderita” introvert kurang peka terhadap lingkungan sekitar sehingga lingkungannya menjadi tidak bisa memahami orang-orang introvert dan lebih parahnya menganggapnya sebagai orang aneh, mungkin karena kebanyakan orang introvert tidak mempunyai kemampuan komunikasi yang baik.

Akan tetapi saya tetap menghibur diri dengan mengatakan bahwa saya bukan orang yang terlalu introvert belakangan ini. Mungkin semenjak mengenal kata “menyederhanakan masalah” yang diutarakan teman saya tadi. Saya menjadi sedikit terbuka dengan orang lain, berusaha menjadi pendengar yang baik karena saya sadar tidak mungkin bisa menjadi pembicara yang baik, dan mencoba memahami mereka dengan cara pandang yang terdeskripsi menjadi pertanyaan “apa yang melatar belakangi orang melakukan itu?” bukan dengan sebuah pernyataan seolah menghakimi, “ah, bodohnya dirimu, begitu saja tidak becus ! pasti engkau dilahirkan dari batang pohon pisang”.

Kadang saya menjadi orang yang sangat menikmati sebuah masalah, mentertawakannya dan mempermainkan masalah itu layaknya sebuah permainan hidup. Jika masalah terasa sangat berat, saya yakin jika saya tidak bisa mengatasi, suatu saat dia pasti akan berlalu dengan sendirinya. Dan itu selalu berhasil, tentu saja saya tetap sebagai seorang yang berpaham religi masih percaya terhadap kekuatan yang tidak terlihat tapi ada yaitu “doa”. Dan tentu saja kata ajaib yang tetap selalu saya pegang yaitu : “disederhanakan saja lho masalahnya”.

PS : Untuk engkau yang sedang dirundung masalah, ingatkah sejak engkau kecil sampai sekarang, pernahkah masalah yang hinggap di hidupmu tidak pernah terselesaikan atau tidak ada jalan keluarnya ? Aku rasa tidak pernah.

sumber gambar : kushinryu.files.wordpress.com

Advertisements

2 responses

  1. kalo sudah tidak punya masalah berarti sudah waktunya dikubur cak.. :mrgreen:

    March 4, 2010 at 4:07 pm

    • yup, betul sekali. selama kita hidup, masalah pasti ada. Jika takut dengan masalah, jangan hidup ! 🙂

      March 5, 2010 at 1:06 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s