Tautan Emosi dan Pikiranku

Archive for April, 2010

Tafakur

Entahlah, tiba-tiba saya merasa kosong, seperti sedang melayang di udara. Rasanya ingin mengaca, melihat sedetail mungkin apa yang salah dan apa yang benar dalam diri ini. Telah banyak yang saya lihat dari kejelekan orang lain tapi apakah saya sudah secara seimbang melihat diri saya sendiri ?

Seringkali merasa tidak puas dengan apa yang diberikan Tuhan. Padahal Tuhan adalah dzat yang tahu segalanya.

Saya ingin bertafakkur, memohon kepada sang khalik agar dibukakan pintu petunjuk bagaimana seharusnya diri saya bersikap, mendewasakan diri, berusaha mengenali diri ini tanpa aling-aling. Kembali mencerna apa-apa yang telah saya lakukan dan apa-apa yang belum saya lakukan.

Tentu saja dalam tafakkur ini saya akan cenderung diam, merenung, berfikir. Berkonsentrasi dan bersungguh-sungguh dalam memperbaiki diri.

“Kamu tidak muda lagi, mal… umurmu sudah 32 tahun !”

Achhh….!


Akad, Penentu Halal Tidaknya Sebuah Transaksi

Teringat perkataan seorang dosen dan pegawai di salah satu perusahaan konsultan bank di Jakarta. Saat itu saya ikut bekerja sebagai tukang entry data lamaran para calon karyawan di sebuah bank di Kalimantan Timur.

Seorang wanita-kebetulan punya hubungan saudara dengan salah satu pegawai konsultan bank itu-bertanya kepada dosen yang menjadi atasan saya tadi. “apa yang membedakan transaksi syariah dengan transaksi biasa (maksudnya seperti transaksi di bank-bank konvensional) toh keduanya sama-sama mengeluarkan uang yang sama ?”.

Wanita itu kemudian memberikan contoh; seorang yang ingin memiliki mobil yang diambil dari sebuah bank konvensional dengan harga Rp. 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah) dengan cara kredit/cicilan. Karena di bank konvensional, maka pasti menggunakan sistem bunga, sehingga orang itu harus membayar cicilan dengan bunga 7%  dengan total yang harus dibayar 2.500.000 per bulan selama 90 bulan. Maka dalam waktu 90 bulan orang itu harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 225.000.000,- (sudah termasuk bunga), berdasarkan hitungan kasar (tanpa kalkulator). Kemudian orang kedua juga ingin memiliki mobil dengan harga yang sama tetapi mengambil dari bank syari’ah dengan harga Rp. 150.000.000,- total yang harus dikeluarkan per bulan juga sama 2.500.000, Sehingga dia juga harus mengeluarkan uang sama dengan orang pertama yaitu 225.000.000. Wanita itu kemudian melanjutkan dengan sebuah pertanyaan, apa bedanya, toh keduanya mengeluarkan uang yang sama besarnya. Maka dengan enteng dosen tadi menjawab “karena akad”.

Seperti di ketahui, dalam sistem bank konvensional yang dikenal adalah sistem bunga. Sedangkan di bank syariah sistem bunga tidak dikenal melainkan menggunakan sistem bagi hasil (mudharabah). Kasus yang dicontohkan wanita diatas adalah dua kasus berbeda. Orang pertama mendapatkan mobil dengan cara membeli dengan perantaraan bank sebagai tempat pinjaman, maka dia dikenakan bunga. Sedangkan pada kasus kedua, mekanisme untuk mendapatkan mobil adalah dengan perjanjian jual beli. Dalam hal ini bank sebagai instansi yang memiliki uang membelikan orang yang bersangkutan sebuah mobil, kemudian orang itu membelinya dari bank dengan sistem cicilan. Maka bisa dikatakan, orang kedua mendapatkan mobil dengan cara membeli kepada bank. Karena bank telah mengeluarkan uang terlebih dahulu untuk membelikan mobil, maka bank mengambil untung dari hasil jualan mobil kepada orang yang bersangkutan. Jadi akad (perjanjiannya) adalah ambil untung, bukan bunga.

Lalu, wanita diatas masih penasaran dan menyanyakan, apa bedanya, sedangkan kedua sistem diatas sama-sama mengeluarkan uang yang sama?. Dosen itu lalu memberikan contoh dengan sangat sederhana. “Ada seorang pasangan laki-laki dan perempuan pada tanggal 15 melakukan hubungan intim, kemudian tanggal 16 dia menikah dengan mengucapkan akad (ijab kabul) di depan penghulu. Tanggal 17 kedua pasangan itu melakukan hubungan intim lagi. Dan taukah anda jika kedua pasangan itu ditanya tentang hubungan intim itu, pasti dia akan mengatakan keduanya sama-sama enak. Bedanya hubungan pertama dilakukan sebelum ijab sehingga hukumnya zina dan haram, sedangkan hubungan kedua dilakukan setelah ijab maka hukumnya adalah ibadah dan halal”. Maka wanita itupun manggut-manggut dan tentunya saya juga, pertanda sudah mengerti tentang pentingnya sebuah perjanjian atau umum disebut sebagai “akad”.

Walaupun kedua orang diatas telah memiliki mobil dengan mengeluarkan biaya yang sama, akan tetapi transaksi yang dilakukan keduanya jelas berbeda, akad orang pertama adalah dengan meminjam sedang akad orang kedua adalah membeli. Begitu pentingnya kata akad yang mendasari halal tidaknya sebuah transaksi sehingga seorang laki-laki diperbolehkan menikah dengan seorang perempuan hanya dengan maskawin sebuah cincin dari besi kawat asal harus ada akad (ijab kabul).


Mengintip Perilaku Anak Ketika Sedang Online

Mengintip user yang sedang aktif (gambar diambil dari warnet salah satu teman saya./dok. pribadi)

Bagi orang tua yang berstatus ekonomi golongan menengah keatas (bisa juga disebut; mampu). Memasang internet sendiri di rumah bukanlah hal berat, bahkan memungkinkan untuk sharing koneksi sesama anggota keluarga, misalnya dengan anak di kamar pribadi.

Tapi bukan hal mudah mengawasi terus menerus perilaku anak yang sedang online di kamarnya sendiri. Bisa-bisa anak akan terjerumus ke lembah “bahaya” internet yang tidak ada batasnya itu. Melihat manfaatnya yang besar dari internet, sangat sayang juga jika anak tidak diberi kesempatan mengambil manfaat untuk tujuan pendidikan anak itu sendiri.

Selain upaya orang tua yang ingin membentengi si anak dengan cara memblokir situs-situs yang tidak layak diakses olehnya, alangkah lebih baiknya jika orang tua ikut menemani si anak ketika sedang online. Tapi tak mungkin kan menemani dia terus-menerus ? nanti orang tua dibilang oleh anaknya gak gaul, “masak orang lagi chatting atau lagi nulis di wall temannya sambil di pelototin orang tua ? ah, papa payah nih…”

Tapi jangan khawatir, selalu ada solusi dari setiap masalah.

Saya ingin memberikan sedikit tips bagi para orang tua diatas. Boleh juga diterapkan di perusahaan-perusahaan, jika sang manajer ingin melihat tingkah polah pegawainya saat sedang online. Atau bisa juga diterapkan di sekolah-sekolah yang memiliki laboratorium komputer/internet. Yaitu dengan memasang program NetOp School. Masalah ada tidaknya pelanggaran HAM karena melanggar privasi pengguna internet, nanti bisa dibicarakan oleh yang ahli. Untuk sekarang yang penting si anak kita selamatkan dahulu.

Memang program ini tidak gratis. Silahkan di cek sendiri di situs aslinya disini. Atau anda bisa mendownload dulu versi trialnya selama 30 hari.

Atau jika kesulitan mendownload versi trial, silahkan download di link ini. Tapi maaf, ini hanya untuk percobaan. Untuk program aslinya silahkan anda membeli pada situs resminya, saya tidak menyarankan anda menggunakan program bajakan.

Cara pasang (instal) Netop

  1. Program netop school ada dua yaitu NetOp Teacher dan NetOp Student. NetOp teacher untuk server (berlaku sebagai pengawas), sedang NetOp Student untuk client (target yang diintip/diawasi).
  2. Instal netop teacher di komputer orang tua (server) seperti program-program komputer pada umumnya dengan meng-klik dua kali pada program.
  3. Setelah terinstal lakukan konfigurasi seperti gambar dibawah.

    setup wizard

    nama server (dok. pribadi)

    next

    no register

  4. Setelah selesai klik finish

Sedangkan untuk menginstal NetOp Student hampir sama dengan netop teacher, hanya sedikit perbedaan di bagian konfigurasi. Tentunya, NetOp student dipasang di komputer target (anak kita sebagai client). Berikut cara konfigurasinya :

  1. Setelah netop terinstal, silahkan konfigurasi seperti gambar berikut :

    setup wizard

    next saja (dok. pribadi)

    nama sama dengan server

    no register juga (dok. pribadi)

  2. Setelah selesai klik finish.

Untuk mengetes hasilnya silahkan aktifkan kedua komputer satu (teacher) dan komputer dua (student). Buka program Netop Teacher dari komputer anda, segera dengan otomatis netop komputer anak akan bergabung dengan komputer teacher, tentu saja tanpa sepengetahuan anak.

Program NetOp School ini tidak hanya digunakan untuk “memata-matai” target, tapi untuk sebuah jaringan yang besar (semisal di perusahaan) program ini sangat cocok juga untuk maintenence komputer client karena kita tidak perlu repot-repot berjalan ke komputer client hanya untuk menginstal sebuah program baru, misalnya.

Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.

Catatan : Dengan segala hormat, tulisan diatas hanya sekedar informasi, tidak ada anjuran sedikitpun untuk melakukan pembajakan sebuah program.


Zina Kecil Bernama “Pacaran”

sumber: 1.bp.blogspot.com

“Klek”, begitu bunyinya. Suara itu masih terdengar merdu karena bunyinya hanya membunuh satu huruf kecil bernama “e”, sebuah huruf yang tidak akan bisa dibunyikan dengan vokal yang pendek jika tidak disertai dengan huruf mati. Beda lagi jika bunyinya “pyarrrrr…” atau “krompyannng….” karena untuk membunuh satu huruf harus disertai beberapa huruf mati sehingga efek dramatisnya sangat terasa mendebarkan, dan suara-suara itu benar-benar pernah kita dengarkan di alam nyata dalam kehidupan kita.

Sebenarnya suara-suara diatas adalah sebuah metafor dari segumpal daging dalam tubuh manusia yang mengalami sebuah dramatisasi dari ulah yang dibuatnya sendiri. Begitu hebatnya efek yang bisa ditimbulkan dari kedua metafora diatas sehingga kadang membuat manusia tidak dapat berpikir jernih dan pada akhirnya harus menistakan dirinya di hadapan Tuhan dengan memilih gantung diri atau terjun dari mall berlantai tujuh. Sungguh malang nian nasib jiwa-jiwa yang berputus asa itu.

Orang-orang yang bernasib malang itu mengatakan : “Hati yang patah mungkin bisa dioperasi dan disambung oleh dokter ahli. Tetapi bagaimana dengan hati yang telah hancur?” (meminjam istilah teman saya bernama Galih). Hati yang telah hancur membuat hidup terasa tidak berarti lagi. Hidup rasanya seperti sayur tanpa garam, hambar, tak ada rasa tak ada sensasi.

Bagi yang kuat dan punya pegangan, hati yang hancur hanyalah sebuah fase dalam sebuah kehidupan yang seyogyanya pasti akan dirasakan oleh makhluk yang bernama manusia. Ketika hati telah hancur, yang dibutuhkan hanyalah seorang teman yang mau mendengarkan dan menemani sepanjang waktu. Atau di era informasi seperti sekarang, blog bisa menjadi teman sepanjang waktu yang akan menemani para pemilik hati yang hancur itu.

Tiba-tiba aku merasa beruntung karena aku dilahirkan ke dunia oleh Tuhan tidak di sertai dengan pesona laki-laki yang sanggup mematahkan hati wanita. Dan beruntung aku tidak pernah terjebak kedalam zina kecil bernama pacaran. Lagian siapa yang berani mengambil resiko berpacaran dengan seorang laki-laki yang sangat tidak romantis ini. Memang, beberapa kali aku mendengar bunyi “klek” dalam hatiku, sakit. Tapi itu tidak membuat aku harus ke dokter untuk operasi karena patah itu hanya terjadi di pojok hatiku. Hatiku belum pernah hancur karena aku tidak pernah punya kesempatan melakukan zina kecil bernama “pacaran”. Hmm.. ini sebuah kelemahan atau sebuah kesombongan ?

Didedikasikan untuk engkau yang saat ini sedang hancur hatinya karena putus cinta. Percayalah, Sehancur apapun hatimu,Tuhan tidak pernah meninggalkanmu.