Tautan Emosi dan Pikiranku

Kisah di Balik Surat Cinta dan SMS

Saya mempunyai seorang teman yang saya anggap berhasil dalam membina hubungan cinta keduanya. Bisa dikatakan begitu karena sejak memulai pacaran selama bertahun-tahun akhirnya mereka manikah juga dan sekarang dikaruniai seorang anak. Teman saya ini seorang laki-laki yang saya anggap sebagai pria “romantis”.

Ada hal menarik yang pernah diutarakan teman saya. Saat itu dia sedang menunjukkan “surat-surat cinta” dari kekasihnya sejak mulai pacaran. Ada beberapa puluh lembar surat yang dikoleksinya. Surat itu kemudian dijilid dengan rapi seperti buku. “mal, paling tidak saya mempunyai kenangan jika seandainya nanti pacar saya tidak menjadi istriku.” Saya hanya tersenyum mendengarkan ungkapan teman saya tersebut, dan dipersilahkan melihat-lihat isi surat itu. Waktu itu memang belum ada teknologi handphone seperti sekarang, dan kedua teman saya ini kebetulan melakukan gaya pacaran jarak jauh alias PJJ.

Beberapa tahun kemudian, teknologi handphone mewabah. SMS sudah lumrah menjadi makanan sehari-hari untuk berkomunikasi jarak jauh. Teman saya ini yang sudah beberapa tahun menikah sering curhat kepada saya melalui SMS. Dia mulai merasa tidak nyaman bersama istrinya karena hal-hal tertentu yang membuat teman saya merasa tidak berwibawa lagi di depan istrinya. Pertengkaran hebat sering terjadi, bahkan teman saya pernah berucap jika saja dia belum mempunyai anak, mungkin istrinya sudah ditinggal pergi. “Masya Allah” spontan saya mengucapkan kata itu. “sebegitu parah kah hubunganmu dengan istrimu?”

Saya berusaha menasehati, walaupun teman saya sebenarnya lebih tahu tentang masalah rumah tangga daripada saya. Seperti yang pernah diajarkan guru saya bahwa dalam pernikahan, ketika menginjak usia lima tahun sampai sepuluh tahun, kebanyakan akan mengalami goncangan. Itu adalah hal biasa dalam kehidupan berumah tangga. Itu adalah karena faktor kejenuhan dari kedua belah pihak, Dalam masa-masa itu suami istri hendaknya menjalani hubungan atas dasar kesabaran, ketabahan dan penghormatan kadua belah pihak.

Suatu saat tiba-tiba istrinya menelpon saya dan menanyakan apa saja yang diceritakan oleh suaminya kepada saya. Saya hanya bilang tidak cerita apa-apa, hanya cerita kalau dia habis sembuh dari sakitnya. Saya curiga jangan-jangan istrinya pernah membaca isi sms antara saya dan sahabat saya itu, karena sejak saat itu teman saya tidak pernah lagi SMS.

Kira-kira sekitar tiga tahun kemudian teman saya tiba-tiba SMS menanyakan kabar saya. Ternyata teman saya sudah lama menghubungi saya tetapi tidak bisa. Sejak tiga tahun lalu, saya memang sudah mengganti nomor HP saya dua kali, dikarenakan berpindah-pindah tempat kerja.

Teman saya bercerita dan berterima kasih kepada saya bahwa keluarganya sekarang sudah rukun kembali, bahkan dia minta dibuatkan akun facebook. Dan beberapa hari kemudian dia memamerkan foto keluarganya di facebook. Sebuah potret keluarga bahagia, begitu kesan yang saya tangkap.

Terima kasih kawan, engkau telah menunjukkan kepada saya tentang arti sebuah kesabaran dan perjuangan. Biduk rumah tangga tidak akan hancur selama nahkoda tidak diambil alih oleh yang tidak berhak. Selamat berjuang !

sumber gambar http://abidah-puzzleblogspot.blogspot.com/2010_05_01_archive.html

Advertisements

One response

  1. Quad Band Phone

    November 4, 2010 at 10:23 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s