Tautan Emosi dan Pikiranku

Archive for October, 2010

Kehidupan

siswi sekolah pondok pesantren babussalam kalibening

Lima tahun lalu sesekali saya berdiri didepan siswa-siswi yang berjejer persis seperti yang ada di foto ini. Tempat dan tanahnya masih sama. Saya bersama para jajaran guru berdiri berderet ditempat yang dinaungi atap sekolahan, tidak seperti anak-anak ini yang kadang rela kepanasan. Setelah acara upacara selesai kami semua berdo’a bersama mengharap kebaikan dari yang maha pencipta.

Saat ini setelah lima tahun berlalu saya seperti orang asing yang ditinggalkan sekawanan burung untuk berhijrah. Padahal sayalah yang berhijrah meninggalkan mereka. Waktu itu saya memutuskan untuk berhenti mengajar demi sebuah kehidupan yang lebih baik. Dengan tangisan ibu saya, saya tinggalkan negeri yang damai menuju tempat yang jauh yang dikatakan orang sebagai “negeri perantauan” Kalimantan. Dan sekarang di Jakarta. Terlalu panjang jika diceritakan semua.

Ternyata konsekuensi dari keputusan besar yang pernah saya ambil tidak seenak yang saya bayangkan. Nyatanya diam-diam saya kangen dengan suasana seperti yang ada di gambar atas. Kadang saya sampai menitikkan air mata melihat tempat saya dulu mencari ilmu dan mengabdi sebagai guru selama empat tahun lamanya. Ingin rasanya kembali memiliki “kehidupan” yang nyaman, tentram dan damai seperti saat-saat saya menjadi guru. Kangen dengan sopan santun murid-murid yang dengan suara lembut menyapa gurunya di jalan. Juga kelembutan “rekan-rekan” guru yang tak lain adalah bapak dan ibu guru saya sendiri sewaktu saya berstatus sebagai murid.

Yah, itulah kehidupan. Kita tak kan pernah tahu arah yang akan diberikan oleh Allah. Dalam hidup, apa yang diyakini benar harus ditempuh walaupun ada konsekuensi dibelakang nanti. Saya tidak pernah menyesal pernah mengambil keputusan besar itu. Apapun yang sudah terjadi adalah sebuah takdir yang sudah ditentukan jauh-jauh hari sebelum ruhku ditiupkan dalam jasad. Jauh sebelum saya menjadi murid, guru dan sekarang entah menjadi apa. Saya lebih suka menyebut diri saya sekarang sebagai “pejuang hidup”. Dengan beraninya tinggal di negeri orang, di kawasan kota yang katanya kota paling kejam di Indonesia, bahkan lebih kejam dari ibu tiri. Di kota ini saya mempertaruhkan nasib dengan iringan takdir yang entah seperti apa nantinya.

“Kehidupan”, sebuah kata yang sederhana, namun sangat berliku jika sudah diselami maknanya. Ada orang bijak berkata,pergilah dari tanah kelahiranmu, tinggalkan semua kemewahan dan kenyamanan yang selama ini kau dapat agar kau bisa mengenal apa yang dinamakan kehidupan itu“.

Inilah saya yang sedang menyelami arti dari kata “kehidupan” sesungguhnya, dan rupanya lamat-lamat aku mulai tahu apa kehidupan itu. Ternyata kehidupan itu seperti gentong yang didalamnya tidak terdapat banyak cahaya, saya harus sedikit membelalakkan mata untuk menemukan sesuatu yang tersimpan dalam gentong itu. Lambat laun saya mendapatkan satu persatu yang selama ini saya cari dan tidak pernah saya temukan diluar gentong itu. Gentong itu gelap tapi menyimpan banyak makna yang masih tersembunyi didalamnya. Sampai saat ini saya masih terus mencari.

Jakarta, 29-10-2010, 22:33 wib. masih dalam suasana kerja.


Cerita Tentang Kompasiana


“lho, ternyata saya bisa menulis toh”

Itu yang terlintas dibenak saya saat itu. Bagaimana tidak, waktu itu tulisan saya tiba-tiba jadi headline di kompasiana yang notabene komunitasnya adalah para penulis, wartawan, sastrawan. Dari kalangan profesional sampai profesor ada di kompasiana.

Kok bisa… ?

Saya terasa mendapatkan kepercayaan diri, ternyata selama ini tulisan-tulisan saya di blog ada juga yang bagus, ha ha ha…

Terkesan narsis memang, tapi tau tidak kalau anda ingin mengetahui apakah anda bisa menulis atau tidak ?

Cobalah membuat blog dan tulislah apa saja yang menjadi pengalaman anda. Apa yang anda pikirkan dan uneg-uneg yang ada dalam diri anda. “Suatu saat tulisan anda mesti bermanfaat” (Pramoedya Ananta Toer) dan yang lebih bagus lagi menulislah di kompasiana.

Di kompasiana saya bisa belajar banyak bagaimana menulis yang baik. (walaupun tulisan saya belum tentu baik, tapi saya terus ingin belajar) Dari sekedar membaca tulisan dan berusaha menulis maka saya bisa sambil belajar.

Apakah ada yang belum kenal kompasiana ?

Kompasiana adalah situs para pembaca kompas.com atau bisa juga dikatakan para pembaca koran kompas. Itu hanya istilah saja. Intinya kompasiana adalah sebuah komunitas yang sangat luas. Kalau dalam dunia internet berarti sebuah situs jejaring sosial yang – menurut saya – ada manfaatnya daripada hanya sekedar update status, 🙂 Kompasiana bisa menjadi situs yang besar dengan semakin banyaknya anggota kompasiana.

Pingin gabung…? silahkan.

ps. tulisan ini bukan promosi kompasiana tapi sekedar narsis-narsisan semata, 🙂