Tautan Emosi dan Pikiranku

Archive for November, 2010

Ada Korupsi Di Warung Nasi

Korupsi, mengambil suatu manfaat dengan tujuan menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain, bagaimanapun bentuknya adalah mencuri.

Saya masih ingat dengan seorang teman yang sangat benci dengan korupsi, walaupun cakupan korupsinya kecil, terjadi di warung nasi.

Apa pasal ?

Teman saya suka sekali minuman dingin yang dicampur es, akan tetapi sering kecewa dengan pemilik warung karena korupsi tadi. Pemilik warung sengaja memberi porsi es batu lebih besar dibanding porsi air minumnya. Walhasil ketika minuman sudah habis, es batu itu masih kelihatan besar dan yang bikin kesel teman saya, es batu itu dijual lagi kepada pembeli lain. Begitulah teman saya mengamati korupsi yang terjadi di warung nasi.

Memang tidak salah seseorang mencari keuntungan yang besar. Tapi jika sudah merugikan orang lain, itu namanya tidak adil. Masa iya, minum es teh dua teguk sudah habis, yang tersisa hanya bongkahan es batu yang besar sebesar isi gelas itu.

Korupsi sudah menjadi bagian dari budaya yang sulit diberantas. Motifnya bermacam-macam, ada yang ingin kaya dengan cepat, ada yang memang hobi mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan orang lain. Korupsi tidak hanya terjadi dalam birokrat, tetapi sampai rantai kehidupan terkecil seperti warung nasi pun bisa terjadi korupsi.

Nah, karena korupsi sudah mengakar dengan kuat, maka tidak ada jalan lain untuk memberantasnya kecuali mencabut akar itu. Bukan korupsinya yang di berantas tapi budayanya yang harus diberangus. Perlunya pendidikan sejak dini ditanamkan kepada para generasi, bahwa korupsi itu tidak hanya mengambil uang rakyat saja. Bahwa korupsi itu tidak melulu terjadi didalam kehidupan para pejabat.

Lalu mungkinkah korupsi bisa hilang dari muka bumi ? tentu tidak. Seperti pencuri yang tak mungkin bisa lenyap dari bumi ini. Akan tetapi kebiasaan korupsi, budaya mengambil secara massal suatu saat bisa diminimalisir. Caranya, dengan menanamkan nilai-nilai budaya yang anti korupsi kepada generasi penerus.

Mungkin kalau warung nasi tadi mengerti isi hati teman saya, bagaimana kesalnya melihat air di gelasnya habis hanya dalam dua tegukan, mungkin saja beliau bisa berhenti dari korupsi.


Mungkin Saatnya Kita Meniru Semar

Apalah arti sebuah gelar dan kepintaran jika tidak bisa menjadi pelayan yang baik bagi masyarakat

Apalah arti kharisma dan kemuliaan jika tidak bisa menjadi amal baik untuk kehidupan akhirat

Mungkin saat ini sebagian kita banyak yang lupa bahwa sejatinya hidup adalah sebagai pelayan. Pelayan bagi diri sendiri, orang-orang sekitar dan masyarakat pada umumnya.

Seorang penjual nasi pecel rela bangun sebelum subuh demi melayani para pekerja yang berangkat pagi buta. Penjual itu rela kedinginan mempersiapkan segala macam pernak-pernik masakan demi orang-orang yang membutuhkan sarapan.

Seorang pencari rumput rela kulitnya gatal-gatal demi mendapatkan rumput terbaik demi hewan ternaknya. Pencari rumput itu memberikan makan sapi-sapinya dengan sepenuh hati agar peliharaannya menjadi gemuk dan kelak dagingnya bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Seorang polisi, seorang jendral, seorang presiden, seorang anggota dewan, wartawan, redaktur, politisi, jaksa, hakim dan banyak profesi lainnya sejatinya adalah pelayan. Mereka pelayan bagi masyarakat yang memberikan amanat baginya. Yah, baginya. Kata “baginya” adalah bentuk kepercayaan masyarakat yang lekat dan tidak main-main. Wujud dari sebuah harapan dan titipan yang tidak layak untuk dipermainkan. Sungguh tidak dapat dipermainkan.

Saat ini rasanya banyak orang sudah mulai bosan menjadi pelayan. Rakyat sudah mulai bosan menjadi rakyat karena para pelayannya tidak bisa diharapkan lagi. Pejabat sudah mulai bosan menjadi pejabat. Pejabat plesiran kemana-mana sedang rakyat sebagai majikannya menderita. Yang lebih aneh dari semua adalah ada tukang garong duit majikan, sudah ditahan masih bisa melenggang nonton sebuah pertandingan, padahal pertandingan itu digelar bermil-mil jauhnya dari tempatnya ditahan.

Mungkin memang sudah waktunya nilai-nilai filosofi hilang entah kemana. Kita tidak bisa lagi membedakan mana majikan, mana pelayan. Mana yang harus dilayani dan mana yang harus melayani. Rasanya kita memang sudah terlalu naif, melihat segala kemungkaran malah kita menjadi bagian dari kemungkaran itu. Kita melihat berbagai penyimpangan, tapi diam-diam kita yang menyuburkannya. Kita teriak-teriak berlagak seperti majikan padahal sebenarnya kitalah pelayan itu. Aneh memang, dunia yang sudah carut-marut didepan mata seperti ini masih kita biarkan. Kita hanya bisa omong kosong besar kepala. Tangan kita kepal dengan gerutuan sekeras suara kereta lewat, namun ketika kita ketiban senyum dari para pesohor negeri ini kita menjadi mabuk kepayang.

Bumi gelisah, mendung hitam pekat, awan yang biasanya putih sudah tidak mau kompromi lagi. Laut begemuruh seperti ingin berlomba menyiram tanah yang sudah terasa panas oleh pendosa. Kolong langit sudah tidak bisa lagi membedakan mana pendosa mana pelaku amal baik karena semua memang sudah tidak bisa dibedakan lagi.

Mungkin sudah waktunya kita kembali kepada filosofi hidup kita masing-masing. Hidup sebagai bagian dari alam, yang ikut menjaga, merawat dan memanen dengan baik, tanpa keserakahan, tanpa kemunafikan. Mengaku bahwa kita semua adalah pelayan yang mempunyai peran dan tugas masing-masing.

Mungkin sudah saatnya kita meniru Semar. Semar adalah seorang kawula yang kharismatik. Seorang pelayan yang wujudnya sangat bersahaja. Semar bisa menjadi pengayom yang menyejukkan. Tidak pernah berteriak untuk memberi perintah tetapi memberikan konsekuensi dari nasehatnya.

Semar selalu meletakkan tangan kanannya menunjuk keatas bukti atas ketundukan kepada Tuhan, sedang tangan kirinya kebelakang sebagai petunjuk untuk menghormati dan berpasrah total kepada segala yang sudah diberikan oleh yang maha tunggal, sekaligus sebagai penunjuk bagi simbol keilmuan yang rendah hati, netral dan simpatik.

Semar sebagai pelayan ummat yang melayani tanpa pamrih dengan berpatokan amal baik sebagai amanat yang diberikan oleh yang maha kuasa.

Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua

Tidak seperti kita yang kadang muka sudah keriput namun kelakuan masih seperti kanak-kanak.

 

Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan

Kita kadang sering kebanyakan tertawa dan mentertawai tapi tidak pernah menangis. Padahal menangis bisa melembutkan hati yang keras dan bernoda.

 

Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa

Sebaliknya kita berwajah tanpa dosa dengan mulut tanpa ekspresi, sedangkan hati kita tertawa terbahak-bahak melihat orang lain bersedih

 

Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok

Kita selalu sering berdiri tegap, tidak pernah berusaha berlutut didepan yang maha kuasa sehingga kaki kita kaku, badan kita menjadi angkuh, tidak seperti semar yang bisa menunjukkan dirinya antara kekuatan fisik dengan ketundukan kepada Tuhan dengan sikap jongkok.

 

Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya

Kita kadang terlalu banyak menyuruh ini itu, sedangkan kita tidak pernah menyadari akan konsekuensi dari apa yang kita perintahkan. Kita tidak bisa menggunakan bahasa diplomatis yang lembut namun memberikan kekuatan untuk mereka yang merasa bersalah. Semar begitu bersahaja, namun sangat dihormati karena bisa menempatkan dirinya sebagai pelayan bagi masyarakat sekaligus sebagai contoh bagi perilaku yang arif dan bijaksana.


Temukan “Passion” Karier, Apa Pun Risikonya

KOMPAS.comPassion bukan bicara hobi. Passion dalam karier adalah keunikan, kekuatan, sesuatu yang begitu Anda cintai untuk dilakukan setiap hari. Pertanyaannya, sudahkah karier saat ini sesuai passion Anda? Jika belum, maka upayakan untuk menemukan minat seutuhnya dan menjalani panggilan hati apa pun risikonya. Meski tentu, Anda akan menemui berbagai pertimbangan, terutama faktor ekonomi.

CareerCoach Rene Suhardono menjelaskan, passion adalah segala hal yang kita sukai atau minati sedemikian rupa sehingga kita tidak terpikir untuk tidak mengerjakannya. Passion adalah segala macam wujud keunikan (keistimewaan) yang kita miliki dan rasakan, tambahnya.

Rene, dalam bukunya Your Job is Not Your Career, mengatakan tidak mudah menemukan passion untuk diri sendiri. Namun, jika ingin karier lebih berkembang, berusaha untuk menemukan passion akan lebih baik daripada mengacuhkannya.

“Rata-rata profesional yang teguh mencari karier sesuai passion mereka, perlu 4-8 tahun untuk menemukan atau menyadarinya. Tidak ada kata terlambat untuk hal yang satu ini,” papar Rene, yang mengaku perlu sembilan tahun baginya untuk menemukan passion dari 16 tahun pengalaman kerja.

Nah, bisa jadi saat ini Anda sudah menyadari passion dalam karier. Namun, sejumlah pertimbangan menghalangi untuk mencapainya. Misalnya, merasa tidak mampu berkiprah di karier sesuai passion karena tidak berpengalaman, atau khawatir hasilnya nanti tidak memadai untuk menunjang hidup. Pertanyaan paling umum lainnya adalah, apakah harus mengorbankan pekerjaan saat ini untuk mengejar karier seusai passion?

Rene menjelaskan, menjalani passion boleh jadi tak mendatangkan manfaat ekonomis secara instan. Namun, menjalani panggilan hati akan membuka pintu menuju hidup yang jauh lebih bernilai.

Nilai positif menjalani karier dan bekerja sesuai panggilan hati, disebutkan Rene, di antaranya:
* Menghasilkan energi yang terbarukan setiap hari.
* Cara untuk mencapai potensi optimal diri.
* Merefleksikan jati diri Anda seutuhnya.

“Tidak ada yang bisa menjamin rezeki di masa depan kecuali yang Maha Kuasa. Jadi mengapa kita ragu untuk memenuhi panggilan hati sendiri?” kata Rene memberikan motivasi.

sumber : kompas.com


Cinta, Bahasa yang Susah Diterjemahkan

“CINTA”
Bahasa yg susah diterjemahkan
tidak cukup hanya dengan uang 100ribu rupiah
sekarang, aku ingin menatap masa depan, (titik)

Engkau mentertawakanku seperti melihat seorang pelawak yang sedang melucu
Tidak tahukan engkau bahwa perkataanku bukan gurauan
Tapi apalah artinya, engkau tidak akan percaya
Walaupun aku mengatakan dengan benar
Bahwa aku masih sendiri

Mungkin saja engkau sekarang sedang tertawa
Bertanya-tanya
Mengapa aku begitu pemurah padamu
Tanpa curiga sedikitpun
Atau mungkin ada sedikit kecurigaan itu
Tapi engkau berusaha menepisnya

Ternyata cinta memang lucu
Tidak cukup hanya dengan pandangan mata
Bahasa tubuhku tidak menjamin
Bahwa kau mengerti kerlingan mataku
Tapi suatu saat aku berharap
Engkau akan sadar
Bahwa aku selalu ada ketika engkau butuh

Cinta memang lucu
Tidak cukup hanya dengan uang 100 ribu rupiah
Kau tetap tidak akan percaya
Bahwa pengorbanan itu tidak melulu atas dasar kemanusiaan
Temanku bilang “itulah cinta… tanpa menghitung walau sebenarnya aku pun ingin untung