Tautan Emosi dan Pikiranku

Archive for December, 2010

Blog

Nah ini mungkin judul tersingkat dari semua tulisan saya di blog ini. Nama judulnya “blog”. Itu saja.

Apa sih blog itu ?

Kalau yang saya pahami blog itu tempatnya “curhat”. Lebih kerennya tempat dimana kita bisa menyampaikan apa yang ada dalam pikiran kita hasil dari perenungan, kegiatan atau pengamatan atas peristiwa sehari-hari yang kita lakukan.

Lalu apa keuntungan blog itu ?

Keuntungannya kita bisa berbagi sesuatu dari pengalaman yang kita peroleh sehingga orang lain mendapatkan pelajaran dari apa yang kita sampaikan.

Lalu ?

Kita bisa mendapatkan teman, bahkan jika si pembaca blog merasa mendapatkan manfaat dari apa yang kita sampaikan maka kita bisa menjadi orang yang dipuja-puja, digadang-gadang dan ditunggu-tunggu kedatangan kita. Tentu saja kedatangan di dunia maya.

Lalu lalu ?

Masih banyak lagi lah pokoknya. Blog itu seperti air lautan, tak akan habis walau dibagi tak akan berkurang walau banyak yang minta. Blog itu bisa menjadi tempat mengadu. Blog juga bisa menjadi tempat bercanda. Blog bisa jadi tempat menyampaikan berita.

ma.tt adalah seorang blogger

Apa itu ma.tt ?

ma.tt adalah blog yang dimiliki salah satu seorang pendiri layanan blog, dia adalah pemilik perusahaan automattic . Keren ya nama situsnya, singkat, tidak bertele-tele, hanya terdiri dari dua huru “ma” dan domain akhiran “.tt”. tt adalah top level domain dari negara Trinidad and Tobago yaitu sebuah negara kepulauan di laut karibia bagian selatan.

Siapa pemilik web ma.tt ?

Dia adalah Matt Mullenweg, Seorang yang kemudian dikenal sebagai founder dari wordpress, sebuah penyedia layanan blog yang sangat dinamis dan stabil sehingga banyak digunakan.

Yuk, kita mengintip apa saja yang dilakukan di blog miliknya. Ternyata seorang matt yang dikenal sebagai salah satu 50 orang paling berpengaruh di dunia internet paling suka mengisi blognya dengan foto. Ada beberapa juga video dari kegiatannya sehari-hari seperti kunjungannya ke berbagai negara yang sedang menyelenggarakan wordcamp tahunan. Dan entu saja beberapa tulisan yang bagi saja tidak terlalu menarik, eh tapi mungkin menarik bagi yang bisa bahasa inggris karena kebetulan saya tidak pandai bahasa inggris, šŸ™‚

Lihatlah seorang bapak blog dunia terlihat tidak terlalu dipusingkan dengan aneka rumus-rumus bagaimana mengisi blog, bagaimana jika blog saya nanti tidak ada yang baca, atau tidak juga dipusingkan dengan berbagai hal yang membuat pemilik blog menjadi tertekan. Tapi itu sih analisa saya sendiri. Kadang-kadang saya mengunjungi blog ma.tt sekedar ingin melihat-lihat foto karyanya dari berbagai belahan dunia.

Pelajaran moralnya adalah blog tidak harus diisi dengan tulisan, bisa juga dengan foto, video atau apa saja lah hasil karya kita sepanjang itu tidak melanggar hak orang lain. Ada yang tidak setuju ?

Jadi… ayo kita ngeblog! mari jadikan dunia lebih baik dengan cara berbagi.

Salam ngeblog


Sugesti : Linux Itu Mudah

Biasanya yang dianggap sulit dari sebuah sistem operasi adalah bagaimana memperkenalkan hadware kepada sistem yang baru terinstal. Ada hal-hal yang membuat hadware itu tidak dikenal dengan baik oleh sistem operasi. Dan akhirnya butuh pengorbanan waktu dan tenaga untuk mendapatkan software (driver) agar hadware bisa berjalan dengan baik. Apalagi jika hadware itu berjalan di linux yang terkenal sulit itu.

Kemarin saya kebetulan mencoba sistem linux. Saya pilih ubuntu 10.04 the lucid lynx. Saya instal di pc AMD athlon. Sengaja tidak saya hilangkan windows xp yang sudah terinstal. Setelah 30 menit berlalu, instalasi selesai. Saya restart komputer dan hasilnya, waw… benar-benar membuat saya takjub. Saya bergumam, “hmmm… sudah sedemikian majunya linux”. Ternyata saya tidak lagi capek dan berdarah seperti beberapa taun lalu saat saya berkenalan dengan linux. Soud card langsung dikenal. VGA ? tidak perlu tanya lagi. Tinggal klik system > administration> hardware drivers, semua langsung terdeteksi. Beberapa menit kemudian driver sudah terisntal dengan baik. Oya, linux ubuntu yang saya pake ini langsung tersambung ke internet dengan sistem DHCP, ini yang paling penting.

Jadi jika ada yang bilang linux itu susah, bisa benar bisa salah. Kalau menurut saya tergantung keberuntungan dan seberapa siap perangkat keras kita terhadap perkembangan linux itu sendiri. Saya sendiri memberikan sugesti pada diri sendiri; linux itu mudah. Walaupun ada beberapa software yang memang tidak mudah di instal dan harus berdarah-darah untuk mendapatkannya tapi saya enjoy, saya menikmatinya, aneh memang. Mungkin itulah kelebihan linux. Menurut saya linux adalah moralitas, ilmu, kesenangan dan kesempatan eksplorasi dunia.. itulah kenapa saya suka linux.


Suara Hati

aku ingin berlari menyusuri hutan, mengarungi lautan
mendengarkan desiran ombak dengan muntahan yang terasa pahit
aku ingin berjalan menyusuri jalanan
bertemu dengan orang-orang baru
bertanya tentang hakikat hidup sebenarnya

aku ingin menyeberang jembatan terpanjang
aku ingin melihat awal terbentuknya horison
bertanya pada orang yang lewat
tentang arti dari sebuah perjalanan

ku ingin berada di puncak gunung tertinggi
merasakan dinginnya udara
dengan penderitaan yang tak pernah ada bandingnya
ingin kurasakan angin
yang tak pernah kompromi pada kebesaran gunung

ku ingin berayun diatas pohon tertinggi
dengan pucuk ranting paling rapuh di dunia
ku ingin melihat setiap helai daun yang akan tumbuh
dengan warna merah kehitaman
ku ingin membelai daun itu dan membisikkan isi hatiku yang terdalam

ku ingin bangun di pagi hari
dengan suara burung-burung
ku ingin melihat setiap bunga yang akan mekar
merasakan wanginya serbuk sari yang mulai masak

ku ingin mengumpulkan setiap tetes embun di dedaunan
ingin kurasakan kesegaran dan kejernihannya
rasanya aku ingin menikmati setiap teguknya
ingin kubawa sebagai bekal perjalananku
akan kubagi pada setiap makhluk yang membutuhkan

suara hati tak pernah benar-benar terdengar
kecuali pada malam sunyi
dimana air mata menjadi seperti embun
dengan jujur tanpa tabir kebohongan
saat itulah suara itu terdengar
meneriakkan hakikat manusia sesungguhnya

maukah kalian mendengar suara hati
maka kalian tidak akan sanggup mendengarnya
kalian akan tersentuh dengan lelehan air mata

manusia makhluk yang rapuh
tak pernah benar-benar kuat
dalam mengarungi perjalanan hidupnya
selalu saja ada titik terendah dari batas kekuatannya
walaupun kadang dia tak mengakuinya

aku akan barlayar mengarungi samudera hidup
bukan demi kebahagiaan dan kesenangan
tapi demi mendengar bisikan hati


Terlempar Keujung Waktu

MAN tambakberas jombang

Apa yang membuat saya selalu terhenyak memandang tak berdaya adalah ketika melihat almamater dimana saya pernah mengenyam pendidikan.

Ketika saya mengingat-ngingat apa yang pernah saya lakukan dulu di sekolah, itulah saat-saat saya menjalani hidup yang sangat berbeda dengan sekarang. Seberapa buruk pun perasaan yang dirasakan sewaktu mengenyam pendidikan tetap membuat perasaan ini menjadi ingin mengulang masa-masa itu. Saya masih merasakan pinggang yang sakit gara-gara melompat dari pagar setinggi 2,5 meter demi pengalaman pertama dan terakhir bolos sekolah. Saya juga masih merasakan “sensasi” aneh ketika rambut saya digunting tanpa aturan didepan teman-teman sekelas saat hari ujian pertama hanya karena salah bersikap. Saya gugup ketika ada razia rambut panjang, dan sekonyong-konyong saya menoleh kearah bapak kharomain yang sebenarnya tidak memasukkan kriteria rambut saya sebagai daftar potong rambut. Biasanya orang yang terlihat gugup adalah orang yang pantas dicurigai, dan saya masuk ke golongan itu.

jalan menuju pondok induk bahrul 'ulum tambakberas jombang

Saya juga selalu teringat keisengan-keisengan di asrama saat bapak kyai membangunkan kami-kamiĀ  untuk shalat shubuh. Bukannya bangun, malah bersembunyi dibelakang jendela. Yang paling ingat adalah keisengan salah satu teman sekamar dengan godaan yang tak ada tandingannya. Teman saya suka olahraga di sore hari menjelang shalat ashar. Saat tiba waktu asharĀ  ada teman lain yang melaksanakan shalat. Saat melakukan rakaat kedua, teman saya selesai olahraga dan berkeringat luar biasa mengoleskan “bau durian” dari ketiaknya tepat dibawah hidung teman selagi shalat. Kontan karena kebetulan dia sedang pilek, air ingusnya meleleh dan tak sanggup memasukkannya kembali. Saya tidak tahu alasannya, mungkin karena baunya terlalu tajam setajam durian. Saya sampai terpingkal-pingkal melihat teman saya ini tetap melanjutkan shalatnya sampai selesai dan air ingusnya beler sampai kira-kira 30 sentimeter. Maklum dia hanya bisa berani bernafas lewat mulut.

Hal-hal sepele seperti itu yang selalu membuat saya mempunyai perasaan aneh jika melihat dunia yang sekarang saya alami. Dunia yang sangat berbeda. Dunia yang sangat menguras pemikiran, tenaga dan intonasi perasaan yang naik turun. Saya sudah menyadari bahwa saya sudah terlempar keujung waktu yang jauh dan tak mungkin kembali kemasa lalu. Hanya saja ketika ada peristiwa-peristiwa yang sedikit mengusik ketenangan batin dalam hidup yang sekarang, selalu saja perasaan-perasaan yang dulu menghiasi kerap muncul kembali. Ada kerinduan yang mendalam, ingin merasakan kembali pengalaman-pengalaman bahkan kalau bisa yang lebih buruk dari hanya sekedar potong rambut oleh guru sekolah, asalkan saya bisa menjalani kehidupan yang “murni” tidak terkontaminasi dengan berbagai masukan seperti sekarang.

jiwa itu seperti gelas kaca

bening…

tidak bisa ternoda oleh segala macam kotoran

hati yang membuat jiwa menjadi tak berdaya

titik-titik hitam menjelma menjadi tembok tebal

dan menghalangi jiwa yang sedang berontak


Rapuh

Daripada memendam sendiri perasaan yang sedang rapuh, lebih baik aku menumpahkan semuanya disini.

“Rapuh”. Kata itu singkat tapi membuat seseorang yang sedang mengalaminya menjadi tidak berdaya. Hidup rasanya seperti tanpa nyawa, ingin sendiri, susah tersenyum, bengong, mudah marah, tidak peduli dengan sesama.

Tetapi sebaliknya orang yang sedang rapuh malah menunggu-nunggu orang yang bisa mendengarkan dia, mendengarkan segala keluh kesahnya. Orang yang sedang rapuh ingin sekali bersandar. Ingin merasakan kehangatan, degup jantung dan merasakan setiap hela nafas yang keluar dari tubuhnya.

Orang yang sedang rapuh tidak menginginkan apa-apa. Yah, hanya itu tadi, hanya butuh sandaran.

Aku terbengong-bengong memandangi layar komputer sambil menggerakkan setiap jentikĀ  jemariku kesana-kemari, diatas keyboard. Menulis ini aku serasa memanggil-manggil nama seseorang tapi aku tak tahu siapa dia. Tatapanku kosong hanya memandangi setiap gerakan huruf-huruf latin tanpa melihat keyboard sedikitpun. Kubiarkan saja jari-jariku meraba-raba setiap ada kesalahan ketik. Pun begitu ternyata aku tak bisa tidak melirik sedikit kemana jari-jariku melangkah.

Hari semakin siang. Santai saja aku, tetap dengan perasaan yang terus memanggil-manggil namanya. “Aku sedang rapuh”, aku katakan itu padanya. Tapi tetap sunyi, hening tak ada yang membalas ucapanku.

Aku berhenti sejenak, mencoba berfikir. Kadang suasana seperti ini sangat aku rindukan supaya aku bisa melihat kedalam diriku. Berfikir, beradu argumentasi dengan diriku sendiri. Menghitung-hitung waktu, menikmatinya dalam ketiadaan semangat. Tapi setiap detail perjalanannya terasa sangat lama, lama sekali. Waktu seperti ini rasanya seperti titian kearah langit.

Titian itu datar dan mulai menanjak di kejauhan, naik keatas dengan pandangan yang terhalang awan-awan. Aku merasa sangat berat jika harus kesana, tapi tak ada tempat kembali. Titian itu hanya satu, aku tidak bisa kembali. Karena kembali berarti aku membelakangi langit. Dan langit adalah tempat dimana Allah Tuhanku bersemayam. Dan langit adalah tempat dimana aku bisa mengetahui bagaimana takdirku kelak.

Walaupun aku tau aku tidak akan sampai kesana. Tapi titian ini membuat aku bisa merasakan lelahnya perjalanan. Aku bisa merasakan sengsaranya menjadi manusia seperti firmanNya bahwa manusia diciptakan dalam keadaan susah dan payah.

Aku selalu mencari keuntungan disetiap situasi. Mungkin akulah salah satu yang disebut sebagai “makhluk ekonomis”. Ketika sedang rapuh akupun tak mau merugi, aku ingin mendapatkan sesuatu. Sesuatu itu tentu saja bukan uang atau makanan. Sesuatu itu adalah “hikmah”.

Beberapa detik lalu aku ingin bersandar dibahu seseorang, kali ini aku ingin ada yang bersandar didadaku. Atau itu hanya hiburan ? Hiburan dari orang yang sedang menghiba. Mungkin.. karena ternyata diluaran sana tidak hanya aku yang sedang merasa seperti ini. Ada belasan, mungkin ribuan atau jutaan orang yang sedang rapuh. Maka tak selayaknya aku terus memandangi langit dengan harapan yang tak mungkin tergapai.

Matahari terbenam! Aku ingin melihat matahari terbenam. Mungkin rasanya lain jika aku bisa duduk termenung, sendiri memandang cakrawala yang mulai berubah warna. Dengan memandang matahari yang beranjak mengundurkan diri sejenak, berpamitan dengan siang yang banyak menyimpan cerita hari ini. Aku ingin mengikutinya pergi kearah barat, mungkin disana aku bisa bertemu seseorang yang akan menyebut namanya. Aku ingin berbicara dengannya dan berkenalan, berharap besok aku tidak memanggilnya dengan nama kosong. Supaya aku bisa memberikan sesuatu kelak jika aku sedang tidak seperti saat ini, tidak sedang dalam kerapuhan.

perempuan..

tunggulah aku yang sedang berjalan menuju cakrawala

cahaya merah itu tidak menyakiti mataku

mungkin engkau disana sedang berhadapan dengannya

sedang termenung sendiri memanggil-manggil nama seseorang

akan kubawa sekuncup bunga rerumputan penuh warna-warni

kan kuselipkan disela-sela rambutmu yang hitam

aku yakin, warna sinar mentari itu akan pergi dengan perlahan

karena tak ingin meninggalkan kesempatan

melihat raut mukamu yang merona

bersama kita memandangi langit

menebak-nebak takdir yang tak ingin kita ketahui

aku berharap aku menemukan kebaikan darimu…


Suara Malam Itu Telah Hilang

Ada yang menarik ketika liburan hari raya idul fitri tahun ini. Suatu malam Ibu saya bercerita, beliau merasa heran kemana perginya suara malam yang dulu selalu didengar setiap malam. “kok sekarang sudah tidak pernah mendengar lagi ‘suara malam’, perasaan dulu kalau malam selalu bunyi suara itu. Orang-orang bilang itu suara malam”.

“Iya ya mak, bukankah dulu ketika malam yang sunyi apalagi setelah hujan turun pasti terdengar suara seperti suara berdesis, seperti suara lampu petromax”.

Kemana perginya suara malam itu?

Tiba-tiba aku terpental jauh kedalam ingatan masa kecil. Dulu ketika aku masih suka berkunjung ke rumah nenek adalah saat-saat yang menyenangkan. Waktu liburan ke rumah nenek adalah saat yang paling ditunggu-tunggu. Aku sangat suka dengan suasana malam di rumah nenek. Ketika malam tiba, di rumah yang dekat dengan jalan raya itu sesekali aku mendengar suara mobil yang lewat. Dan saat malam mulai larut, suara mobil sudah tidak terdengar lagi berganti dengan suara yang aneh yang selalu terdengar setiap malam. Suara itu seperti suara desisan yang tidak terputus. Suaranya persis suara lampu petromax. Atau kalau boleh saya menggambarkan suaranya seperti suara bebek (mentok) ketika marah karena anaknya diganggu tetapi dengan konsonan yang tidak terputus.

Suatu ketika saya pernah bertanya kepada ibu saya. Beliau berkata kalau suara itu adalah suara dajjal yang mencoba melarikan diri dengan menggergaji rantai yang membelenggunya. Ibu saya berpesan, “ingat anakku jika suatu saat suara adzan sudah tidak terdengar lagi maka dajjal akan berhasil memutuskan rantai yang membelenggunya dan akan keluar dari penjara. Saat itulah dia akan melakukan tindakan untuk menggoyahkan iman manusia”.

Memang pendidikan yang diberikan oleh guru-guru dan orang tua saya seperti itu. Bahwa suara adzan adalah pencegah keluarnya dajjal dari penjaranya. Setiap suara adzan dikumandangkan maka akan membuat rantai yang digergaji oleh dajjal menjadi pulih kembali seperti sedia kala. Dan dajjal akan terus berusaha memutuskan rantai itu sampai suatu saat suara adzan tidak terdengar lagi.

Mengenai adzan dan dajjal sampai sekarang ingatan itu masih lekat walaupun dengan sebuah pemahaman baru bahwa ketika akhlak dan kebajikan masih ditegakkan maka dajjal tidak akan muncul ke muka bumi ini. Tetapi mengenai suara malam saya sudah melupakannya sampai ketika ibu saya mengucapkan kata itu. Kemana suara malam pergi?

Saya menerka-nerka mungkin suara malam itu hilang bersamaan dengan gundulnya hutan di daerah kampungku yang kebetulan dekat dengan daerah pegunungan yang berbukit-bukit. Dulunya hutan sangat lebat dengan pohon jati sebagai bagian dari tanah dan airnya yang melimpah. Saya masih ingat ketika mandi disungai saya bisa melihat ikan-ikan berkelebatan seperti kilat. Warna putih di tubuhnya terlihat jelas diantara air yang sangat jernih pada musim kemarau.

Tapi jika suara malam itu karena suasana hutan yang bercampur dengan suara berbagai makhluk hidup pada malam hari, lalu dari mana suara malam yang terdengar di rumah nenek saya yang berada dikawasan kota. Dan apakah salah pendengaran ibu saya sedangkan saya juga tidak pernah lagi mendengar suara itu.

Burung gergaji

Teman saya dari sumatera pernah bercerita tentang burung gergaji yang selalu muncul pada malam hari di dalam hutan. Burung gergaji dikenal sangat misterius dan menakutkan. Dikisahkan bahwa burung itu selalu menggergaji kayu pada malam hari untuk membuat tangga. Tangga itu dibuat dengan tujuan agar burung itu bisa naik sampi ke bulan. Tetapi karena bulan sangat tinggi sehingga pekerjaan burung itu tidak pernah selesai dan sampai sekarang burung itu selalu mengeluarkan suara seperti gergaji sebagai ungkapan kerinduannya kepada bulan dan ungkapan kekesalan karena tidak pernah berhasil membuat tangga.

Belakangan baru saya menyadari bahwa burung yang diceritakan teman saya itulah mungkin yang selama ini dikenal dengan burung pungguk atau semacam burung hantu yang memang bisa mengeluarkan suara ngongsro atau suara gergaji yang dulu sering sering terdengar dari orang yang suka menebang pohon didalam hutan. Mungkin di hutan dekat rumah saya dulu banyaknya suara burung ituĀ  yang menghasilkan suara malam seperti yang didengar ibu saya. Wallahu a’lam

Aku memang sudah tidak pernah mendengar suara itu lagi.


Melakukan Hal-hal Ringan Itu Penting ?

Kalau hal-hal berat tidak bisa dilakukan, mengapa tidak melakukan hal-hal ringan saja… asal tetap membawa manfaat.

bulu itu ringan tapi bisa menerbangkan burung (jalaindra.wordpress.com)

Yup, kita kadang terlalu terobsesi dengan hal-hal berat yang bahkan membuat hidup kita menjadi bertambah berat. Ingin melakukan sesuatu yang kadang diluar kemampuan yang kita miliki. Berlagak ingin merubah sesuatu yang besar padahal merapikan kamar tidur saja tidak bisa. Hmm.. ada yang tersindir, tapi begitulah adanya.

Keinginan adalah sumber penderitaan. _Iwan Fals

Jika ingin hidup lebih bahagia, coba kurangi keinginan karena keinginan adalah sumber penderitaan.

Nampaknya ungkapan itu ada benarnya. Segala yang membuat hidup menjadi lebih menderita adalah karena banyaknya keinginan sehingga membuat hidup tidak terkonsentrasi pada hal-hal yang justeru menjadi kebutuhan. Istilahnya, bedakan antara keinginan dan kebutuhan karena tanpa tau perbedaan itu, kita hanya akan menjadi budak dari keinginan kita sendiri.

Mengurangi keinginan bisa menjadi hidup menjadi lebih bahagia. Yakin… ? cobalah!

Semua karena harta…

Mestinya kita yang mengombang-ambingkan harta, bukan harta yang mengombang-ambingkan hidup kita.

Ada kalanya kita menjadi semakin jauh dari tujuan hidup yang sebenarnya. Kita mencari sesuatu atau lebih tepatnya ‘harta’ dengan penuh semangat dan ambisi. Akhirnya kita tidakĀ  sadar bahwa kita sebenarnya budak dari harta itu. Harta telah menguasai hidup kita seperti gurita yang mencengkeram seekor kepiting. Ketika kita ingin melapaskan dari cengkeraman itu diri kita sudah setengah hancur atau bahkan sudah hancur sama sekali.

Sebenarnya apa hal-hal berat yang menambah bahan stress dari pikiran kita ?

Hal-hal berat itu bisa apa saja. Sesuatu yang kita lakukan hanya karena ingin seperti orang lain adalah contoh hal-hal berat itu. Kita menjadi semakin agresif dengan hidup kita sendiri dan memaksakan sesuatu yang sebenarnya bukan kemampuan kita. Atau istilah kasarnya mengada-adakan sesuatu yang tidak ada. “loh, kamu itu bukan ahli dibidang sosial kok mau menulis dan membahas masalah sosial, ya gak nyambung”. Sebuah ungkapan yang mungkin perlu untuk direnungkan. Itu hanya contoh kecil dalam dunia tulis menulis.

Lalu bagaimana jika hal-hal yang ternyata berat tidak harus kita lakukan ?

Pilihannya hanya satu, lakukan hal-hal ringan saja. Siapa tau justeru akan menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Melukis, bermusik, ikut kumpulan grup musik tertentu bisa jadi hal ringan yang bisa meredakan tingkat stress karena lelah melakukan hal-hal berat. Barangkali nraktir teman-teman sekerja makan di warung lesehan yang murah juga bisa dibilang hal ringan, karena biasanya anda makan di restoran mewah, misalnya.

Tulisan saya ini adalah tulisan ringan karena saya tidak bisa menulis dengan tema yang berat. Hei… adakah yang takut menulis karena takut dianggap tidak berbobot ?

Kalau begitu tulis saja hal-hal ringan dalam hidup anda, siapa tau saya bisa belajar banyak dari tulisan anda.

———

*sekedar sharing bahan renungan