Tautan Emosi dan Pikiranku

Rapuh

Daripada memendam sendiri perasaan yang sedang rapuh, lebih baik aku menumpahkan semuanya disini.

“Rapuh”. Kata itu singkat tapi membuat seseorang yang sedang mengalaminya menjadi tidak berdaya. Hidup rasanya seperti tanpa nyawa, ingin sendiri, susah tersenyum, bengong, mudah marah, tidak peduli dengan sesama.

Tetapi sebaliknya orang yang sedang rapuh malah menunggu-nunggu orang yang bisa mendengarkan dia, mendengarkan segala keluh kesahnya. Orang yang sedang rapuh ingin sekali bersandar. Ingin merasakan kehangatan, degup jantung dan merasakan setiap hela nafas yang keluar dari tubuhnya.

Orang yang sedang rapuh tidak menginginkan apa-apa. Yah, hanya itu tadi, hanya butuh sandaran.

Aku terbengong-bengong memandangi layar komputer sambil menggerakkan setiap jentik  jemariku kesana-kemari, diatas keyboard. Menulis ini aku serasa memanggil-manggil nama seseorang tapi aku tak tahu siapa dia. Tatapanku kosong hanya memandangi setiap gerakan huruf-huruf latin tanpa melihat keyboard sedikitpun. Kubiarkan saja jari-jariku meraba-raba setiap ada kesalahan ketik. Pun begitu ternyata aku tak bisa tidak melirik sedikit kemana jari-jariku melangkah.

Hari semakin siang. Santai saja aku, tetap dengan perasaan yang terus memanggil-manggil namanya. “Aku sedang rapuh”, aku katakan itu padanya. Tapi tetap sunyi, hening tak ada yang membalas ucapanku.

Aku berhenti sejenak, mencoba berfikir. Kadang suasana seperti ini sangat aku rindukan supaya aku bisa melihat kedalam diriku. Berfikir, beradu argumentasi dengan diriku sendiri. Menghitung-hitung waktu, menikmatinya dalam ketiadaan semangat. Tapi setiap detail perjalanannya terasa sangat lama, lama sekali. Waktu seperti ini rasanya seperti titian kearah langit.

Titian itu datar dan mulai menanjak di kejauhan, naik keatas dengan pandangan yang terhalang awan-awan. Aku merasa sangat berat jika harus kesana, tapi tak ada tempat kembali. Titian itu hanya satu, aku tidak bisa kembali. Karena kembali berarti aku membelakangi langit. Dan langit adalah tempat dimana Allah Tuhanku bersemayam. Dan langit adalah tempat dimana aku bisa mengetahui bagaimana takdirku kelak.

Walaupun aku tau aku tidak akan sampai kesana. Tapi titian ini membuat aku bisa merasakan lelahnya perjalanan. Aku bisa merasakan sengsaranya menjadi manusia seperti firmanNya bahwa manusia diciptakan dalam keadaan susah dan payah.

Aku selalu mencari keuntungan disetiap situasi. Mungkin akulah salah satu yang disebut sebagai “makhluk ekonomis”. Ketika sedang rapuh akupun tak mau merugi, aku ingin mendapatkan sesuatu. Sesuatu itu tentu saja bukan uang atau makanan. Sesuatu itu adalah “hikmah”.

Beberapa detik lalu aku ingin bersandar dibahu seseorang, kali ini aku ingin ada yang bersandar didadaku. Atau itu hanya hiburan ? Hiburan dari orang yang sedang menghiba. Mungkin.. karena ternyata diluaran sana tidak hanya aku yang sedang merasa seperti ini. Ada belasan, mungkin ribuan atau jutaan orang yang sedang rapuh. Maka tak selayaknya aku terus memandangi langit dengan harapan yang tak mungkin tergapai.

Matahari terbenam! Aku ingin melihat matahari terbenam. Mungkin rasanya lain jika aku bisa duduk termenung, sendiri memandang cakrawala yang mulai berubah warna. Dengan memandang matahari yang beranjak mengundurkan diri sejenak, berpamitan dengan siang yang banyak menyimpan cerita hari ini. Aku ingin mengikutinya pergi kearah barat, mungkin disana aku bisa bertemu seseorang yang akan menyebut namanya. Aku ingin berbicara dengannya dan berkenalan, berharap besok aku tidak memanggilnya dengan nama kosong. Supaya aku bisa memberikan sesuatu kelak jika aku sedang tidak seperti saat ini, tidak sedang dalam kerapuhan.

perempuan..

tunggulah aku yang sedang berjalan menuju cakrawala

cahaya merah itu tidak menyakiti mataku

mungkin engkau disana sedang berhadapan dengannya

sedang termenung sendiri memanggil-manggil nama seseorang

akan kubawa sekuncup bunga rerumputan penuh warna-warni

kan kuselipkan disela-sela rambutmu yang hitam

aku yakin, warna sinar mentari itu akan pergi dengan perlahan

karena tak ingin meninggalkan kesempatan

melihat raut mukamu yang merona

bersama kita memandangi langit

menebak-nebak takdir yang tak ingin kita ketahui

aku berharap aku menemukan kebaikan darimu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s