Tautan Emosi dan Pikiranku

Terlempar Keujung Waktu

MAN tambakberas jombang

Apa yang membuat saya selalu terhenyak memandang tak berdaya adalah ketika melihat almamater dimana saya pernah mengenyam pendidikan.

Ketika saya mengingat-ngingat apa yang pernah saya lakukan dulu di sekolah, itulah saat-saat saya menjalani hidup yang sangat berbeda dengan sekarang. Seberapa buruk pun perasaan yang dirasakan sewaktu mengenyam pendidikan tetap membuat perasaan ini menjadi ingin mengulang masa-masa itu. Saya masih merasakan pinggang yang sakit gara-gara melompat dari pagar setinggi 2,5 meter demi pengalaman pertama dan terakhir bolos sekolah. Saya juga masih merasakan “sensasi” aneh ketika rambut saya digunting tanpa aturan didepan teman-teman sekelas saat hari ujian pertama hanya karena salah bersikap. Saya gugup ketika ada razia rambut panjang, dan sekonyong-konyong saya menoleh kearah bapak kharomain yang sebenarnya tidak memasukkan kriteria rambut saya sebagai daftar potong rambut. Biasanya orang yang terlihat gugup adalah orang yang pantas dicurigai, dan saya masuk ke golongan itu.

jalan menuju pondok induk bahrul 'ulum tambakberas jombang

Saya juga selalu teringat keisengan-keisengan di asrama saat bapak kyai membangunkan kami-kami  untuk shalat shubuh. Bukannya bangun, malah bersembunyi dibelakang jendela. Yang paling ingat adalah keisengan salah satu teman sekamar dengan godaan yang tak ada tandingannya. Teman saya suka olahraga di sore hari menjelang shalat ashar. Saat tiba waktu ashar  ada teman lain yang melaksanakan shalat. Saat melakukan rakaat kedua, teman saya selesai olahraga dan berkeringat luar biasa mengoleskan “bau durian” dari ketiaknya tepat dibawah hidung teman selagi shalat. Kontan karena kebetulan dia sedang pilek, air ingusnya meleleh dan tak sanggup memasukkannya kembali. Saya tidak tahu alasannya, mungkin karena baunya terlalu tajam setajam durian. Saya sampai terpingkal-pingkal melihat teman saya ini tetap melanjutkan shalatnya sampai selesai dan air ingusnya beler sampai kira-kira 30 sentimeter. Maklum dia hanya bisa berani bernafas lewat mulut.

Hal-hal sepele seperti itu yang selalu membuat saya mempunyai perasaan aneh jika melihat dunia yang sekarang saya alami. Dunia yang sangat berbeda. Dunia yang sangat menguras pemikiran, tenaga dan intonasi perasaan yang naik turun. Saya sudah menyadari bahwa saya sudah terlempar keujung waktu yang jauh dan tak mungkin kembali kemasa lalu. Hanya saja ketika ada peristiwa-peristiwa yang sedikit mengusik ketenangan batin dalam hidup yang sekarang, selalu saja perasaan-perasaan yang dulu menghiasi kerap muncul kembali. Ada kerinduan yang mendalam, ingin merasakan kembali pengalaman-pengalaman bahkan kalau bisa yang lebih buruk dari hanya sekedar potong rambut oleh guru sekolah, asalkan saya bisa menjalani kehidupan yang “murni” tidak terkontaminasi dengan berbagai masukan seperti sekarang.

jiwa itu seperti gelas kaca

bening…

tidak bisa ternoda oleh segala macam kotoran

hati yang membuat jiwa menjadi tak berdaya

titik-titik hitam menjelma menjadi tembok tebal

dan menghalangi jiwa yang sedang berontak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s