Tautan Emosi dan Pikiranku

Cerita

Kembali Ke WordPress

Oke, saya kembali lagi ke wordpress. Apalagi kalau bukan untuk me-nu-lis. Menulis di wordpress ini terasa tidak terbebani karena saya memang menulis untuk diri saya sendiri. Saya kadang mendapatkan sesuatu yang lain saat melihat-lihat arsip tulisan saya terdahulu. Disaat-saat suasana hati tidak menentu saya bisa menghilangkan rasa itu kala saya membaca tulisan saya sendiri. Jadi bisa dikatakan: obat mujarab untuk mengobati suasana hati yang sedang berkecamuk adalah membaca catatan hidup diri sendiri.

Kenapa ? saya tidak tahu. Setelah sekian lama sering menulis “hal-hal tidak jelas” disitus jejaring sosial, lama-lama saya bosen dan merasa aneh, mencibir, tertawa-tawa sendiri melihat berbagai uneg-uneg dan tetek bengek, juga hal remeh-temeh yang diposting di situs jejaring sosial tersebut. Bahkan segala perkataan kasar dan menjijikkan sering saya temui di status teman jejaring sosial. Intinya, situs tersebut kebanyakan berisi keluhan, hujatan dan segala macam yang berkaitan dengan isi hati. Tetapi sayangnya hanya dibatasi beberapa karakter. Aneh rasanya, orang bisa tahu isi hati kita walaupun belum kenal sama sekali. Jika saya bisa mentertawakan setatus yang dipasang orang lain, maka sebaliknya orang lain juga bisa mentertawakan status yang saya pasang.

Lalu apa bedanya dengan menulis blog seperti ini ?

Saya lebih suka blog karena Pertama, saya tidak dibatasi dengan karakter tulisan. Saya bisa menulis sampai saya lelah untuk menulis. Kedua, menulis di wordpress ini saya bisa menyampaikan isi hati dengan cara yang lebih “elegan” (terserah bahasanya apa, saya suka bahasa itu). Saya bisa menyampaikan pikiran dengan memaparkan secara rinci apa yang benar-benar saya sampaikan. Mengenai tulisan saya bagus, dibaca orang itu tidak terlalu saya pikirkan. Berbeda dengan memasang status di jejaring sosial, jika tidak ada tanggapan atau sekedar like status, rasanya diri ini dicampakkan, *hayoo ngaku yang biasa update status :)*

Ketiga, Menulis blog di wordpress ini saya merasa seperti berkelana ke dunia yang luas. Siapa saja bisa menemukan saya disini, atau sebaliknya, saya bisa bertemu dengan orang-orang baru, entah dari mesin pencari atau memang sudah kenal dengan blog saya sebelumnya. Saya tidak dibatasi dengan pertemanan seperti ketika saya update status di situs jejaring – hanya orang-orang yang menjadi teman kita yang bisa care atau mengabaikan apa yang kita sampaikan.

Keempat, saya suka menulis dengan kalimat yang panjang. Jadi situs micro blogging seperti kebanyakan jejaring sosial benar-benar tidak cocok untuk saya.

Kelima, saya benar-benar tidak bisa menyembunyikan karakter saya di situs jejaring sosial semacam facebook. Mungkin karena kebanyakan teman di facebook juga teman di dunia nyata jadi saya kerepotan jika harus menyembunyikan sesuatu, sedangkan menurut saya, dunia maya is dunia maya dan dunia nyata is dunia nyata. Keduanya sangatlah berbeda. Sedangkan disini, saya bisa tampak tersenyum walalupun sedang pahit, atau saya bisa berpura-pura sedang enjoy padahal saya sedang banyak dirundung masalah.

Jadi kesimpulannya, saya lebih suka menulis daripada sekedar update status. Bagaimana dengan anda ?


Sugesti : Linux Itu Mudah

Biasanya yang dianggap sulit dari sebuah sistem operasi adalah bagaimana memperkenalkan hadware kepada sistem yang baru terinstal. Ada hal-hal yang membuat hadware itu tidak dikenal dengan baik oleh sistem operasi. Dan akhirnya butuh pengorbanan waktu dan tenaga untuk mendapatkan software (driver) agar hadware bisa berjalan dengan baik. Apalagi jika hadware itu berjalan di linux yang terkenal sulit itu.

Kemarin saya kebetulan mencoba sistem linux. Saya pilih ubuntu 10.04 the lucid lynx. Saya instal di pc AMD athlon. Sengaja tidak saya hilangkan windows xp yang sudah terinstal. Setelah 30 menit berlalu, instalasi selesai. Saya restart komputer dan hasilnya, waw… benar-benar membuat saya takjub. Saya bergumam, “hmmm… sudah sedemikian majunya linux”. Ternyata saya tidak lagi capek dan berdarah seperti beberapa taun lalu saat saya berkenalan dengan linux. Soud card langsung dikenal. VGA ? tidak perlu tanya lagi. Tinggal klik system > administration> hardware drivers, semua langsung terdeteksi. Beberapa menit kemudian driver sudah terisntal dengan baik. Oya, linux ubuntu yang saya pake ini langsung tersambung ke internet dengan sistem DHCP, ini yang paling penting.

Jadi jika ada yang bilang linux itu susah, bisa benar bisa salah. Kalau menurut saya tergantung keberuntungan dan seberapa siap perangkat keras kita terhadap perkembangan linux itu sendiri. Saya sendiri memberikan sugesti pada diri sendiri; linux itu mudah. Walaupun ada beberapa software yang memang tidak mudah di instal dan harus berdarah-darah untuk mendapatkannya tapi saya enjoy, saya menikmatinya, aneh memang. Mungkin itulah kelebihan linux. Menurut saya linux adalah moralitas, ilmu, kesenangan dan kesempatan eksplorasi dunia.. itulah kenapa saya suka linux.


Terlempar Keujung Waktu

MAN tambakberas jombang

Apa yang membuat saya selalu terhenyak memandang tak berdaya adalah ketika melihat almamater dimana saya pernah mengenyam pendidikan.

Ketika saya mengingat-ngingat apa yang pernah saya lakukan dulu di sekolah, itulah saat-saat saya menjalani hidup yang sangat berbeda dengan sekarang. Seberapa buruk pun perasaan yang dirasakan sewaktu mengenyam pendidikan tetap membuat perasaan ini menjadi ingin mengulang masa-masa itu. Saya masih merasakan pinggang yang sakit gara-gara melompat dari pagar setinggi 2,5 meter demi pengalaman pertama dan terakhir bolos sekolah. Saya juga masih merasakan “sensasi” aneh ketika rambut saya digunting tanpa aturan didepan teman-teman sekelas saat hari ujian pertama hanya karena salah bersikap. Saya gugup ketika ada razia rambut panjang, dan sekonyong-konyong saya menoleh kearah bapak kharomain yang sebenarnya tidak memasukkan kriteria rambut saya sebagai daftar potong rambut. Biasanya orang yang terlihat gugup adalah orang yang pantas dicurigai, dan saya masuk ke golongan itu.

jalan menuju pondok induk bahrul 'ulum tambakberas jombang

Saya juga selalu teringat keisengan-keisengan di asrama saat bapak kyai membangunkan kami-kami  untuk shalat shubuh. Bukannya bangun, malah bersembunyi dibelakang jendela. Yang paling ingat adalah keisengan salah satu teman sekamar dengan godaan yang tak ada tandingannya. Teman saya suka olahraga di sore hari menjelang shalat ashar. Saat tiba waktu ashar  ada teman lain yang melaksanakan shalat. Saat melakukan rakaat kedua, teman saya selesai olahraga dan berkeringat luar biasa mengoleskan “bau durian” dari ketiaknya tepat dibawah hidung teman selagi shalat. Kontan karena kebetulan dia sedang pilek, air ingusnya meleleh dan tak sanggup memasukkannya kembali. Saya tidak tahu alasannya, mungkin karena baunya terlalu tajam setajam durian. Saya sampai terpingkal-pingkal melihat teman saya ini tetap melanjutkan shalatnya sampai selesai dan air ingusnya beler sampai kira-kira 30 sentimeter. Maklum dia hanya bisa berani bernafas lewat mulut.

Hal-hal sepele seperti itu yang selalu membuat saya mempunyai perasaan aneh jika melihat dunia yang sekarang saya alami. Dunia yang sangat berbeda. Dunia yang sangat menguras pemikiran, tenaga dan intonasi perasaan yang naik turun. Saya sudah menyadari bahwa saya sudah terlempar keujung waktu yang jauh dan tak mungkin kembali kemasa lalu. Hanya saja ketika ada peristiwa-peristiwa yang sedikit mengusik ketenangan batin dalam hidup yang sekarang, selalu saja perasaan-perasaan yang dulu menghiasi kerap muncul kembali. Ada kerinduan yang mendalam, ingin merasakan kembali pengalaman-pengalaman bahkan kalau bisa yang lebih buruk dari hanya sekedar potong rambut oleh guru sekolah, asalkan saya bisa menjalani kehidupan yang “murni” tidak terkontaminasi dengan berbagai masukan seperti sekarang.

jiwa itu seperti gelas kaca

bening…

tidak bisa ternoda oleh segala macam kotoran

hati yang membuat jiwa menjadi tak berdaya

titik-titik hitam menjelma menjadi tembok tebal

dan menghalangi jiwa yang sedang berontak


Suara Malam Itu Telah Hilang

Ada yang menarik ketika liburan hari raya idul fitri tahun ini. Suatu malam Ibu saya bercerita, beliau merasa heran kemana perginya suara malam yang dulu selalu didengar setiap malam. “kok sekarang sudah tidak pernah mendengar lagi ‘suara malam’, perasaan dulu kalau malam selalu bunyi suara itu. Orang-orang bilang itu suara malam”.

“Iya ya mak, bukankah dulu ketika malam yang sunyi apalagi setelah hujan turun pasti terdengar suara seperti suara berdesis, seperti suara lampu petromax”.

Kemana perginya suara malam itu?

Tiba-tiba aku terpental jauh kedalam ingatan masa kecil. Dulu ketika aku masih suka berkunjung ke rumah nenek adalah saat-saat yang menyenangkan. Waktu liburan ke rumah nenek adalah saat yang paling ditunggu-tunggu. Aku sangat suka dengan suasana malam di rumah nenek. Ketika malam tiba, di rumah yang dekat dengan jalan raya itu sesekali aku mendengar suara mobil yang lewat. Dan saat malam mulai larut, suara mobil sudah tidak terdengar lagi berganti dengan suara yang aneh yang selalu terdengar setiap malam. Suara itu seperti suara desisan yang tidak terputus. Suaranya persis suara lampu petromax. Atau kalau boleh saya menggambarkan suaranya seperti suara bebek (mentok) ketika marah karena anaknya diganggu tetapi dengan konsonan yang tidak terputus.

Suatu ketika saya pernah bertanya kepada ibu saya. Beliau berkata kalau suara itu adalah suara dajjal yang mencoba melarikan diri dengan menggergaji rantai yang membelenggunya. Ibu saya berpesan, “ingat anakku jika suatu saat suara adzan sudah tidak terdengar lagi maka dajjal akan berhasil memutuskan rantai yang membelenggunya dan akan keluar dari penjara. Saat itulah dia akan melakukan tindakan untuk menggoyahkan iman manusia”.

Memang pendidikan yang diberikan oleh guru-guru dan orang tua saya seperti itu. Bahwa suara adzan adalah pencegah keluarnya dajjal dari penjaranya. Setiap suara adzan dikumandangkan maka akan membuat rantai yang digergaji oleh dajjal menjadi pulih kembali seperti sedia kala. Dan dajjal akan terus berusaha memutuskan rantai itu sampai suatu saat suara adzan tidak terdengar lagi.

Mengenai adzan dan dajjal sampai sekarang ingatan itu masih lekat walaupun dengan sebuah pemahaman baru bahwa ketika akhlak dan kebajikan masih ditegakkan maka dajjal tidak akan muncul ke muka bumi ini. Tetapi mengenai suara malam saya sudah melupakannya sampai ketika ibu saya mengucapkan kata itu. Kemana suara malam pergi?

Saya menerka-nerka mungkin suara malam itu hilang bersamaan dengan gundulnya hutan di daerah kampungku yang kebetulan dekat dengan daerah pegunungan yang berbukit-bukit. Dulunya hutan sangat lebat dengan pohon jati sebagai bagian dari tanah dan airnya yang melimpah. Saya masih ingat ketika mandi disungai saya bisa melihat ikan-ikan berkelebatan seperti kilat. Warna putih di tubuhnya terlihat jelas diantara air yang sangat jernih pada musim kemarau.

Tapi jika suara malam itu karena suasana hutan yang bercampur dengan suara berbagai makhluk hidup pada malam hari, lalu dari mana suara malam yang terdengar di rumah nenek saya yang berada dikawasan kota. Dan apakah salah pendengaran ibu saya sedangkan saya juga tidak pernah lagi mendengar suara itu.

Burung gergaji

Teman saya dari sumatera pernah bercerita tentang burung gergaji yang selalu muncul pada malam hari di dalam hutan. Burung gergaji dikenal sangat misterius dan menakutkan. Dikisahkan bahwa burung itu selalu menggergaji kayu pada malam hari untuk membuat tangga. Tangga itu dibuat dengan tujuan agar burung itu bisa naik sampi ke bulan. Tetapi karena bulan sangat tinggi sehingga pekerjaan burung itu tidak pernah selesai dan sampai sekarang burung itu selalu mengeluarkan suara seperti gergaji sebagai ungkapan kerinduannya kepada bulan dan ungkapan kekesalan karena tidak pernah berhasil membuat tangga.

Belakangan baru saya menyadari bahwa burung yang diceritakan teman saya itulah mungkin yang selama ini dikenal dengan burung pungguk atau semacam burung hantu yang memang bisa mengeluarkan suara ngongsro atau suara gergaji yang dulu sering sering terdengar dari orang yang suka menebang pohon didalam hutan. Mungkin di hutan dekat rumah saya dulu banyaknya suara burung itu  yang menghasilkan suara malam seperti yang didengar ibu saya. Wallahu a’lam

Aku memang sudah tidak pernah mendengar suara itu lagi.