Tautan Emosi dan Pikiranku

Curhat

Lima Hal Yang Membuat Saya Menangis

Setiap orang hendaknya mempunyai sifat yang lembut sebagai kodrat atas penciptaannya sebagai manusia. Sekasar-kasarnya manusia PASTI punya sisi lain dari dirinya yang mencerminkan kelembutan dan kasih sayang.

Saya tidak menampik bahwa saya punya tabiat sebagai orang yang “kasar”. Sering sekali saya menyakiti hati orang-orang yang ada didekat saya. Dan saya tidak menyangkal hal itu. Tetapi saya hanyalah manusia yang tak sempurna dan pasti memiliki kelemahan. Tetapi bukan berarti saya tidak memiliki sisi emosional dalam diri saya. Inilah fakta tentang saya. Ada beberapa hal yang membuat saya ingin menangis atau kadang sampai mengeluarkan air mata.

1. Melihat anak-anak berangkat sekolah di pagi hari. Hanya ketika melihat anak-anak sekolah pada pagi hari saya bisa menangis? Yap! tetapi tidak setiap melihat mereka lantas saya menangis. Ini terjadi disaat-saat tertentu dan polanya selalu sama. Begini, saya bisa menitikkan air mata kalau melihat sekumpulan anak sekolah sedang naik sepeda pada pagi hari. Saat matahari belum terlalu tinggi. Bayangan anak-anak itu di tanah atau jalan menimbulkan efek dramatis yang menggoda emosi saya. Mengingatkan saya tentang perasaan optimis ketika sekolah dulu. Rasa optimis itu tidak terasa membuat hidup selalu survive, dan ketika usia semakin dewasa perasaan optimis kadang-kadang memudar berganti dengan perasaan jenuh dan pesimis. Makanya kalau melihat mereka berbondong-bondong pergi ke sekolah, jiwa saya tidak tahan. Ingin sekali berpesan kepada mereka,

“hai anak-anak, nikmatilah masa-masa sekolah karena masa itu tidak akan pernah terulang. Belajarlah yang rajin karena sekolah ibarat investasi masa depan. Kalian tidak tahu akan menjadi apa nanti, tapi kalian sudah mau berlelah-lelah mengayuh sepeda dengan giat. Kalian menggantungkan hidupmu dari sekolah. Padahal sekolah tidak menjamin kelak hidupmu akan bahagia. Tapi ambil sisi positifnya, sekolah sebenarnya hanya menggantikan waktu luangmu ketika masih kanak-kanak, dan itu masih lebih baik dibandingkan engkau hanya menghabiskan masa mudamu bermain-main”.

2. Mengunjungi makam bapak. Inilah mungkin yang disebut ikatan emosional. Ketika mengunjungi makam ayah saya, saya seperti bisa berbicara kepadanya. Saya selalu berkata dalam hati, “maafkan saya pak, dulu saat bapak masih hidup saya tidak bisa menjadi anak yang baik. Inilah anakmu sekarang, seperti inilah saya sekarang, apa adanya. Bapak bisa mengetahui perasaan sesungguhnya anakmu disini, tidak seperti dulu saya selalu tertutup dan tidak pernah terbuka dengan bapak. Tetapi seandainya bapak hidup lagi, saya akan mengungkapkan apa saja yang ada dalam hati saya”.

Saya selalu menangis didalam hati walaupun tidak sampai menitikkan air mata, sekuat apapun saya ingin menangis tapi tidak pernah bisa mengeluarkan air mata. Entah kenapa. Dimasa hidup dulu bapak  saya memang tidak pernah membiarkan anaknya menangis, bapak akan sangat marah jika melihat anaknya menangis dan tidak pernah mengajarkan tentang kecengengan. Walaupun menangis tidak identik dengan kecengengan tapi saya sangat setuju dengan pendapat bapak saya. Tapi pak, di masa-masa tertentu kita tidak akan bisa menahan air mata ini. Bapak pasti juga setuju.

3. Dimalam hari ketika mengingat-ingat usia. Ini juga bisa membuat mata saya lebam luar biasa. Saat malam yang sunyi kira-kira jam tiga dini hari saya bisa menangis tersedu-sedu jika mengingat-ingat umur. Pertanyaan yang selalu sama adalah apa yang bisa saya lakukan ketika usia tua nanti? sudah pantaskah apa yang saya lakukan di dunia untuk bekal akhirat kelak. Saya takut luar biasa kepada Tuhan, dan saat-saat seperti inilah saya merasa menangis adalah kebahagiaan luar biasa tiada tara. Rasanya jiwa ini bisa bersatu dengan Allah Tuhanku.

4. Melihat almamater dimana saya pernah sekolah. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya jika saya mengingat tempat saya sekolah dulu, baik sekolah SD MI, SMP MTs, SMA MAN dan sewaktu kuliah saya selalu merasa sedih dan rindu. Mungkin perasaan rindu dan menyesal kenapa dulu tidak pernah belajar dengan rajin itulah yang membuat hati ini ingin menangis.

5. Melihat ibu menangis. Ini yang paling tidak kuat. Hati serasa teriris setiap kali melihat ibu menangis. Makanya jika ibu saya menangis saya malah tidak berani mendekat. Saya tidak sampai hati mendengar isakannya.


Rapuh

Daripada memendam sendiri perasaan yang sedang rapuh, lebih baik aku menumpahkan semuanya disini.

“Rapuh”. Kata itu singkat tapi membuat seseorang yang sedang mengalaminya menjadi tidak berdaya. Hidup rasanya seperti tanpa nyawa, ingin sendiri, susah tersenyum, bengong, mudah marah, tidak peduli dengan sesama.

Tetapi sebaliknya orang yang sedang rapuh malah menunggu-nunggu orang yang bisa mendengarkan dia, mendengarkan segala keluh kesahnya. Orang yang sedang rapuh ingin sekali bersandar. Ingin merasakan kehangatan, degup jantung dan merasakan setiap hela nafas yang keluar dari tubuhnya.

Orang yang sedang rapuh tidak menginginkan apa-apa. Yah, hanya itu tadi, hanya butuh sandaran.

Aku terbengong-bengong memandangi layar komputer sambil menggerakkan setiap jentik  jemariku kesana-kemari, diatas keyboard. Menulis ini aku serasa memanggil-manggil nama seseorang tapi aku tak tahu siapa dia. Tatapanku kosong hanya memandangi setiap gerakan huruf-huruf latin tanpa melihat keyboard sedikitpun. Kubiarkan saja jari-jariku meraba-raba setiap ada kesalahan ketik. Pun begitu ternyata aku tak bisa tidak melirik sedikit kemana jari-jariku melangkah.

Hari semakin siang. Santai saja aku, tetap dengan perasaan yang terus memanggil-manggil namanya. “Aku sedang rapuh”, aku katakan itu padanya. Tapi tetap sunyi, hening tak ada yang membalas ucapanku.

Aku berhenti sejenak, mencoba berfikir. Kadang suasana seperti ini sangat aku rindukan supaya aku bisa melihat kedalam diriku. Berfikir, beradu argumentasi dengan diriku sendiri. Menghitung-hitung waktu, menikmatinya dalam ketiadaan semangat. Tapi setiap detail perjalanannya terasa sangat lama, lama sekali. Waktu seperti ini rasanya seperti titian kearah langit.

Titian itu datar dan mulai menanjak di kejauhan, naik keatas dengan pandangan yang terhalang awan-awan. Aku merasa sangat berat jika harus kesana, tapi tak ada tempat kembali. Titian itu hanya satu, aku tidak bisa kembali. Karena kembali berarti aku membelakangi langit. Dan langit adalah tempat dimana Allah Tuhanku bersemayam. Dan langit adalah tempat dimana aku bisa mengetahui bagaimana takdirku kelak.

Walaupun aku tau aku tidak akan sampai kesana. Tapi titian ini membuat aku bisa merasakan lelahnya perjalanan. Aku bisa merasakan sengsaranya menjadi manusia seperti firmanNya bahwa manusia diciptakan dalam keadaan susah dan payah.

Aku selalu mencari keuntungan disetiap situasi. Mungkin akulah salah satu yang disebut sebagai “makhluk ekonomis”. Ketika sedang rapuh akupun tak mau merugi, aku ingin mendapatkan sesuatu. Sesuatu itu tentu saja bukan uang atau makanan. Sesuatu itu adalah “hikmah”.

Beberapa detik lalu aku ingin bersandar dibahu seseorang, kali ini aku ingin ada yang bersandar didadaku. Atau itu hanya hiburan ? Hiburan dari orang yang sedang menghiba. Mungkin.. karena ternyata diluaran sana tidak hanya aku yang sedang merasa seperti ini. Ada belasan, mungkin ribuan atau jutaan orang yang sedang rapuh. Maka tak selayaknya aku terus memandangi langit dengan harapan yang tak mungkin tergapai.

Matahari terbenam! Aku ingin melihat matahari terbenam. Mungkin rasanya lain jika aku bisa duduk termenung, sendiri memandang cakrawala yang mulai berubah warna. Dengan memandang matahari yang beranjak mengundurkan diri sejenak, berpamitan dengan siang yang banyak menyimpan cerita hari ini. Aku ingin mengikutinya pergi kearah barat, mungkin disana aku bisa bertemu seseorang yang akan menyebut namanya. Aku ingin berbicara dengannya dan berkenalan, berharap besok aku tidak memanggilnya dengan nama kosong. Supaya aku bisa memberikan sesuatu kelak jika aku sedang tidak seperti saat ini, tidak sedang dalam kerapuhan.

perempuan..

tunggulah aku yang sedang berjalan menuju cakrawala

cahaya merah itu tidak menyakiti mataku

mungkin engkau disana sedang berhadapan dengannya

sedang termenung sendiri memanggil-manggil nama seseorang

akan kubawa sekuncup bunga rerumputan penuh warna-warni

kan kuselipkan disela-sela rambutmu yang hitam

aku yakin, warna sinar mentari itu akan pergi dengan perlahan

karena tak ingin meninggalkan kesempatan

melihat raut mukamu yang merona

bersama kita memandangi langit

menebak-nebak takdir yang tak ingin kita ketahui

aku berharap aku menemukan kebaikan darimu…