Tautan Emosi dan Pikiranku

Happening

Sakit Hati yang Tidak Ada Obatnya

Belakangan saya sudah melupakan dia
Belakangan saya sudah tidak tertarik lagi dengan dia
Belakangan saya merasa tidak membutuhkan dia lagi

Tapi apa yang selanjutnya terjadi. Ketika dia datang, hati rasanya tercabik-cabik. Sedih bercampur pilu rasanya tak tertahankan.

Mungkin itulah gambaran suasana hati seseorang yang lama telah melupakan cintanya pada orang yang dia cintai. Dia sudah tidak mempunyai rasa lagi setelah dia mengetahui segala hal buruk tentangnya. Tapi alih-alih ingin melupakan, justru hatinya selalu terasa perih manakala orang yang dicintainya masih terlihat didepan mata. Setiap saat kala orang yang dicintainya mendekat maka saat itu pula hatinya serasa hancur berkeping-keping.

Orang itupun selalu bertanya, perasaan apa sebenarnya yang dia miliki sehingga hanya karena kemunculan orang yang pernah dicintainya di depan mata membuat dia menjadi merana.

Perasaan teraduk-aduk dengan perih itu seperti terpendam dan hilang, lalu muncul kembali setiap dia melihat orang yang pernah ada dihatinya itu.

Inilah fenomena yang mungkin dimiliki oleh setiap orang. Ada banyak penjelasan mengenai hal ini. Akan tetapi hakikat sebenarnya mengapa perasaan itu muncul masih menjadi misteri.

Jika ditanya, dengan siapa saja engkau pernah mencintai seseorang dan engkau diabaikan? Dia mungkin punya jawaban “banyak!” Lalu siapa diantara banyak itu yang membuatmu sakit hati. Jawabnya “hanya dia”. Inilah keanehan yang selalu dia tanyakan dalam hatinya, “mengapa sulit sekali aku melepaskan diri?”

Mungkin memang perasaan “sakit” itu tidak pernah ada obatnya. Atau mungkin saja obatnya hanyalah waktu yang entah kapan akan membuat sakit hatinya sembuh kembali.


Suara Malam Itu Telah Hilang

Ada yang menarik ketika liburan hari raya idul fitri tahun ini. Suatu malam Ibu saya bercerita, beliau merasa heran kemana perginya suara malam yang dulu selalu didengar setiap malam. “kok sekarang sudah tidak pernah mendengar lagi ‘suara malam’, perasaan dulu kalau malam selalu bunyi suara itu. Orang-orang bilang itu suara malam”.

“Iya ya mak, bukankah dulu ketika malam yang sunyi apalagi setelah hujan turun pasti terdengar suara seperti suara berdesis, seperti suara lampu petromax”.

Kemana perginya suara malam itu?

Tiba-tiba aku terpental jauh kedalam ingatan masa kecil. Dulu ketika aku masih suka berkunjung ke rumah nenek adalah saat-saat yang menyenangkan. Waktu liburan ke rumah nenek adalah saat yang paling ditunggu-tunggu. Aku sangat suka dengan suasana malam di rumah nenek. Ketika malam tiba, di rumah yang dekat dengan jalan raya itu sesekali aku mendengar suara mobil yang lewat. Dan saat malam mulai larut, suara mobil sudah tidak terdengar lagi berganti dengan suara yang aneh yang selalu terdengar setiap malam. Suara itu seperti suara desisan yang tidak terputus. Suaranya persis suara lampu petromax. Atau kalau boleh saya menggambarkan suaranya seperti suara bebek (mentok) ketika marah karena anaknya diganggu tetapi dengan konsonan yang tidak terputus.

Suatu ketika saya pernah bertanya kepada ibu saya. Beliau berkata kalau suara itu adalah suara dajjal yang mencoba melarikan diri dengan menggergaji rantai yang membelenggunya. Ibu saya berpesan, “ingat anakku jika suatu saat suara adzan sudah tidak terdengar lagi maka dajjal akan berhasil memutuskan rantai yang membelenggunya dan akan keluar dari penjara. Saat itulah dia akan melakukan tindakan untuk menggoyahkan iman manusia”.

Memang pendidikan yang diberikan oleh guru-guru dan orang tua saya seperti itu. Bahwa suara adzan adalah pencegah keluarnya dajjal dari penjaranya. Setiap suara adzan dikumandangkan maka akan membuat rantai yang digergaji oleh dajjal menjadi pulih kembali seperti sedia kala. Dan dajjal akan terus berusaha memutuskan rantai itu sampai suatu saat suara adzan tidak terdengar lagi.

Mengenai adzan dan dajjal sampai sekarang ingatan itu masih lekat walaupun dengan sebuah pemahaman baru bahwa ketika akhlak dan kebajikan masih ditegakkan maka dajjal tidak akan muncul ke muka bumi ini. Tetapi mengenai suara malam saya sudah melupakannya sampai ketika ibu saya mengucapkan kata itu. Kemana suara malam pergi?

Saya menerka-nerka mungkin suara malam itu hilang bersamaan dengan gundulnya hutan di daerah kampungku yang kebetulan dekat dengan daerah pegunungan yang berbukit-bukit. Dulunya hutan sangat lebat dengan pohon jati sebagai bagian dari tanah dan airnya yang melimpah. Saya masih ingat ketika mandi disungai saya bisa melihat ikan-ikan berkelebatan seperti kilat. Warna putih di tubuhnya terlihat jelas diantara air yang sangat jernih pada musim kemarau.

Tapi jika suara malam itu karena suasana hutan yang bercampur dengan suara berbagai makhluk hidup pada malam hari, lalu dari mana suara malam yang terdengar di rumah nenek saya yang berada dikawasan kota. Dan apakah salah pendengaran ibu saya sedangkan saya juga tidak pernah lagi mendengar suara itu.

Burung gergaji

Teman saya dari sumatera pernah bercerita tentang burung gergaji yang selalu muncul pada malam hari di dalam hutan. Burung gergaji dikenal sangat misterius dan menakutkan. Dikisahkan bahwa burung itu selalu menggergaji kayu pada malam hari untuk membuat tangga. Tangga itu dibuat dengan tujuan agar burung itu bisa naik sampi ke bulan. Tetapi karena bulan sangat tinggi sehingga pekerjaan burung itu tidak pernah selesai dan sampai sekarang burung itu selalu mengeluarkan suara seperti gergaji sebagai ungkapan kerinduannya kepada bulan dan ungkapan kekesalan karena tidak pernah berhasil membuat tangga.

Belakangan baru saya menyadari bahwa burung yang diceritakan teman saya itulah mungkin yang selama ini dikenal dengan burung pungguk atau semacam burung hantu yang memang bisa mengeluarkan suara ngongsro atau suara gergaji yang dulu sering sering terdengar dari orang yang suka menebang pohon didalam hutan. Mungkin di hutan dekat rumah saya dulu banyaknya suara burung itu  yang menghasilkan suara malam seperti yang didengar ibu saya. Wallahu a’lam

Aku memang sudah tidak pernah mendengar suara itu lagi.


Ada Korupsi Di Warung Nasi

Korupsi, mengambil suatu manfaat dengan tujuan menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain, bagaimanapun bentuknya adalah mencuri.

Saya masih ingat dengan seorang teman yang sangat benci dengan korupsi, walaupun cakupan korupsinya kecil, terjadi di warung nasi.

Apa pasal ?

Teman saya suka sekali minuman dingin yang dicampur es, akan tetapi sering kecewa dengan pemilik warung karena korupsi tadi. Pemilik warung sengaja memberi porsi es batu lebih besar dibanding porsi air minumnya. Walhasil ketika minuman sudah habis, es batu itu masih kelihatan besar dan yang bikin kesel teman saya, es batu itu dijual lagi kepada pembeli lain. Begitulah teman saya mengamati korupsi yang terjadi di warung nasi.

Memang tidak salah seseorang mencari keuntungan yang besar. Tapi jika sudah merugikan orang lain, itu namanya tidak adil. Masa iya, minum es teh dua teguk sudah habis, yang tersisa hanya bongkahan es batu yang besar sebesar isi gelas itu.

Korupsi sudah menjadi bagian dari budaya yang sulit diberantas. Motifnya bermacam-macam, ada yang ingin kaya dengan cepat, ada yang memang hobi mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan orang lain. Korupsi tidak hanya terjadi dalam birokrat, tetapi sampai rantai kehidupan terkecil seperti warung nasi pun bisa terjadi korupsi.

Nah, karena korupsi sudah mengakar dengan kuat, maka tidak ada jalan lain untuk memberantasnya kecuali mencabut akar itu. Bukan korupsinya yang di berantas tapi budayanya yang harus diberangus. Perlunya pendidikan sejak dini ditanamkan kepada para generasi, bahwa korupsi itu tidak hanya mengambil uang rakyat saja. Bahwa korupsi itu tidak melulu terjadi didalam kehidupan para pejabat.

Lalu mungkinkah korupsi bisa hilang dari muka bumi ? tentu tidak. Seperti pencuri yang tak mungkin bisa lenyap dari bumi ini. Akan tetapi kebiasaan korupsi, budaya mengambil secara massal suatu saat bisa diminimalisir. Caranya, dengan menanamkan nilai-nilai budaya yang anti korupsi kepada generasi penerus.

Mungkin kalau warung nasi tadi mengerti isi hati teman saya, bagaimana kesalnya melihat air di gelasnya habis hanya dalam dua tegukan, mungkin saja beliau bisa berhenti dari korupsi.


Kebosanan Di Titik Nol

Kemarin sempat jalan-jalan ke Cianjur diajak teman. Berempat kami berangkat dengan mengendarai mobil pribadi milik seorang juragan kontrakan, asli orang betawi yang kebetulan mertua teman saya. Menuju daerah pelosok yang lumayan tinggi di pegunungan Cianjur. Perjalanan lumayan lama sekitar dua jam lebih. Ternyata jalan yang kami lalui tidak seindah yang dibayangkan. Banyak lubang dimana-mana. Yang ada di pikiran saya adalah jalan yang hanya berjarak puluhan kilo dari Jakarta saja seperti ini, bagaimana dengan yang jauh dengan Ibukota. Tapi, ah, sudahlah..! saya tidak tertarik menceritakan tentang jalan rusak, karena itu hanya akan menjadi cerita klasik yang lebih membosankan daripada cerita tentang jejaka tua yang sedang mencari cinta, atau bahasa gaulnya “sedang ingin menikah”. lah, bahasa gaul katanya. (more…)


Selamat Tinggal Facebook

no facebookIntinya, saya tidak terlalu banyak mendapatkan manfaat dari facebook, bahkan produktifitas menjadi menurun, jadi malas belajar, malas membaca, malas bekerja. Tiap hari hanya dibuat penasaran dengan datangnya komentar-komentar atau status teman, baik status palsu ataupun tidak. (more…)