Tautan Emosi dan Pikiranku

puisi

Ketika Cinta Salah Sasaran

Malang nian nasibmu, kawan…
Ketika cinta datang tak diundang
Engkau mendayu-dayu
Memuji dengan sepenuh hati
Menulis puisi untuknya
Dengan kata-kata terindah tak terkira

Tapi ternyata cintamu salah sasaran
Cintamu tak lebih dari obsesi belaka
Tak lebih dari pemuja kulit mulus
Dan penikmat dada montok

Ah, apalah daya…
Cintamu sudah jelas salah sasaran
Apalagi yang kau harap
Senyumnya…
Suara nyaringnya…
Atau sekedar tubuh seksinya…

Begitulah cinta
Dia datang dengan samar
Diapun pergi tak terlihat

Sekarang mulutmu berdesis
Dengan hati sepanas api
Relakan saja, kawan…
Cintamu telah pergi

Advertisements

Suara Hati

aku ingin berlari menyusuri hutan, mengarungi lautan
mendengarkan desiran ombak dengan muntahan yang terasa pahit
aku ingin berjalan menyusuri jalanan
bertemu dengan orang-orang baru
bertanya tentang hakikat hidup sebenarnya

aku ingin menyeberang jembatan terpanjang
aku ingin melihat awal terbentuknya horison
bertanya pada orang yang lewat
tentang arti dari sebuah perjalanan

ku ingin berada di puncak gunung tertinggi
merasakan dinginnya udara
dengan penderitaan yang tak pernah ada bandingnya
ingin kurasakan angin
yang tak pernah kompromi pada kebesaran gunung

ku ingin berayun diatas pohon tertinggi
dengan pucuk ranting paling rapuh di dunia
ku ingin melihat setiap helai daun yang akan tumbuh
dengan warna merah kehitaman
ku ingin membelai daun itu dan membisikkan isi hatiku yang terdalam

ku ingin bangun di pagi hari
dengan suara burung-burung
ku ingin melihat setiap bunga yang akan mekar
merasakan wanginya serbuk sari yang mulai masak

ku ingin mengumpulkan setiap tetes embun di dedaunan
ingin kurasakan kesegaran dan kejernihannya
rasanya aku ingin menikmati setiap teguknya
ingin kubawa sebagai bekal perjalananku
akan kubagi pada setiap makhluk yang membutuhkan

suara hati tak pernah benar-benar terdengar
kecuali pada malam sunyi
dimana air mata menjadi seperti embun
dengan jujur tanpa tabir kebohongan
saat itulah suara itu terdengar
meneriakkan hakikat manusia sesungguhnya

maukah kalian mendengar suara hati
maka kalian tidak akan sanggup mendengarnya
kalian akan tersentuh dengan lelehan air mata

manusia makhluk yang rapuh
tak pernah benar-benar kuat
dalam mengarungi perjalanan hidupnya
selalu saja ada titik terendah dari batas kekuatannya
walaupun kadang dia tak mengakuinya

aku akan barlayar mengarungi samudera hidup
bukan demi kebahagiaan dan kesenangan
tapi demi mendengar bisikan hati