Tautan Emosi dan Pikiranku

Tafakkur

Islam Saya Adalah…

 

Don´t hate it, 1/3 of the world´s population are muslims. If they all would be so bad, some people and media wanna tell us, we were all dead already. What you see on the picture is a part of the surah "Al-Hadid" - The Iron. By: Malik Braun

Islam bagi saya adalah agama,  petunjuk bagi jalan yang suram berkelok-kelok menuju jalan yang terang benderang dan lurus.

Islam saya adalah Islam yang lentur. Lentur ? tentu lentur sesuai dengan pemahaman kacamata saya sendiri.

Islam saya adalah Islam saja. Islam bagi saya bukan fanatisme. Islam saya adalah islam, dimana saya berusaha mentaati perintah Allah, seperti shalat, puasa, shadaqah dan lain-lain. Saya berusaha untuk shalat lima waktu walaupun kadang-kadang bolong karena kelalaian dan kesengajaan. Saya tidak menyalahkan syaitan. Islam yang ada pada diri saya melekat sejak kecil. Bagi saya syaitan adalah musuh yang nyata. Ketika saya lena maka sayalah yang harus dihukum. Untuk syaitan biarlah Tuhanku yang memberi keputusan.

Islam saya islam yang sederhana. Islam sebagai penuntun dalam kehidupan yang tidak pasti. Islam saya tidak pernah membebani. Walaupun tidak membebani, saya tidak pernah main-main dengan islam saya. Saya tetap selalu harus berwudhu sebelum shalat. Saya ikuti aturan ruku-rukun saat shalat, begitu juga ibadah-ibadah yang lain.

Islam saya tidak pernah memaksa. Islam saya adalah islam yang menganjurkan seruan dan ajakan bukan paksaan. “saya mau shalat dulu, mau ikut?” Islam saya islam yang menasehati dengan pertanyaan dan senyuman. “kapan mulai shalat?” atau “eh, lagi puasa gak? kenapa gak puasa?”.

Islam saya islam sosial. Islam yang bergaul dengan siapa saja. Islam saya tidak pernah memilah-milah. Bagi islam saya, semua manusia sama. Islam saya tidak pernah mengadili akhlak seseorang. Ahklak mereka urusannya dengan Tuhan.Islam saya bukan negara. Biarlah negara yang mengadili akhlak yang merugikan sesama.

Islam saya islam yang cinta estetika. Islam saya suka dengan keindahan. Dengan keindahan, saya belajar mengenal Tuhan. Dengan keindahan, Islam seperti oase yang menyejukkan. Islam saya berusaha menjadikan diri saya nyaman bersanding dengan siapapun dan berusaha membuat nyaman kepada siapapun yang bersanding dengan saya. Islam saya bukan islam intimidasi. Islam saya adalah islam yang cinta kedamaian.

Islam dan saya adalah berbeda. Saya adalah manusia, sedangkan Islam adalah ajaran Tuhan. Kadang islam yang melekat dalam diri saya saya abaikan dan dosa-dosa pun membuat saya malu pada Tuhan. Itulah islam yang ada pada diri saya, maka saya tidak berhak menghardik seseorang dan mengecam dengan cemoohan. Bagaimana mungkin saya menganggap orang lain calon penghuni surga ataupun neraka, sedangkan diri saya sendiri tidak tahu nasib saya di akhirat kelak.

Islam saya tidak bisa menuding seorang pelacur adalah ahli neraka dan seorang ulama adalah ahli surga. Islam saya percaya bahwa Tuhan punya cara sendiri dalam menuangkan cinta pada semua makhlukNya. Tuhan mempunyai cara yang unik dalam menunjukkan kekuasaaNnya. Itulah maka islam saya tidak punya hak sedikitpun untuk menebak nasib seseorang kelak di akhirat.

Islam saya adalah islam yang damai. Bagaimana dengan islam anda ?


Lima Hal Yang Membuat Saya Menangis

Setiap orang hendaknya mempunyai sifat yang lembut sebagai kodrat atas penciptaannya sebagai manusia. Sekasar-kasarnya manusia PASTI punya sisi lain dari dirinya yang mencerminkan kelembutan dan kasih sayang.

Saya tidak menampik bahwa saya punya tabiat sebagai orang yang “kasar”. Sering sekali saya menyakiti hati orang-orang yang ada didekat saya. Dan saya tidak menyangkal hal itu. Tetapi saya hanyalah manusia yang tak sempurna dan pasti memiliki kelemahan. Tetapi bukan berarti saya tidak memiliki sisi emosional dalam diri saya. Inilah fakta tentang saya. Ada beberapa hal yang membuat saya ingin menangis atau kadang sampai mengeluarkan air mata.

1. Melihat anak-anak berangkat sekolah di pagi hari. Hanya ketika melihat anak-anak sekolah pada pagi hari saya bisa menangis? Yap! tetapi tidak setiap melihat mereka lantas saya menangis. Ini terjadi disaat-saat tertentu dan polanya selalu sama. Begini, saya bisa menitikkan air mata kalau melihat sekumpulan anak sekolah sedang naik sepeda pada pagi hari. Saat matahari belum terlalu tinggi. Bayangan anak-anak itu di tanah atau jalan menimbulkan efek dramatis yang menggoda emosi saya. Mengingatkan saya tentang perasaan optimis ketika sekolah dulu. Rasa optimis itu tidak terasa membuat hidup selalu survive, dan ketika usia semakin dewasa perasaan optimis kadang-kadang memudar berganti dengan perasaan jenuh dan pesimis. Makanya kalau melihat mereka berbondong-bondong pergi ke sekolah, jiwa saya tidak tahan. Ingin sekali berpesan kepada mereka,

“hai anak-anak, nikmatilah masa-masa sekolah karena masa itu tidak akan pernah terulang. Belajarlah yang rajin karena sekolah ibarat investasi masa depan. Kalian tidak tahu akan menjadi apa nanti, tapi kalian sudah mau berlelah-lelah mengayuh sepeda dengan giat. Kalian menggantungkan hidupmu dari sekolah. Padahal sekolah tidak menjamin kelak hidupmu akan bahagia. Tapi ambil sisi positifnya, sekolah sebenarnya hanya menggantikan waktu luangmu ketika masih kanak-kanak, dan itu masih lebih baik dibandingkan engkau hanya menghabiskan masa mudamu bermain-main”.

2. Mengunjungi makam bapak. Inilah mungkin yang disebut ikatan emosional. Ketika mengunjungi makam ayah saya, saya seperti bisa berbicara kepadanya. Saya selalu berkata dalam hati, “maafkan saya pak, dulu saat bapak masih hidup saya tidak bisa menjadi anak yang baik. Inilah anakmu sekarang, seperti inilah saya sekarang, apa adanya. Bapak bisa mengetahui perasaan sesungguhnya anakmu disini, tidak seperti dulu saya selalu tertutup dan tidak pernah terbuka dengan bapak. Tetapi seandainya bapak hidup lagi, saya akan mengungkapkan apa saja yang ada dalam hati saya”.

Saya selalu menangis didalam hati walaupun tidak sampai menitikkan air mata, sekuat apapun saya ingin menangis tapi tidak pernah bisa mengeluarkan air mata. Entah kenapa. Dimasa hidup dulu bapak  saya memang tidak pernah membiarkan anaknya menangis, bapak akan sangat marah jika melihat anaknya menangis dan tidak pernah mengajarkan tentang kecengengan. Walaupun menangis tidak identik dengan kecengengan tapi saya sangat setuju dengan pendapat bapak saya. Tapi pak, di masa-masa tertentu kita tidak akan bisa menahan air mata ini. Bapak pasti juga setuju.

3. Dimalam hari ketika mengingat-ingat usia. Ini juga bisa membuat mata saya lebam luar biasa. Saat malam yang sunyi kira-kira jam tiga dini hari saya bisa menangis tersedu-sedu jika mengingat-ingat umur. Pertanyaan yang selalu sama adalah apa yang bisa saya lakukan ketika usia tua nanti? sudah pantaskah apa yang saya lakukan di dunia untuk bekal akhirat kelak. Saya takut luar biasa kepada Tuhan, dan saat-saat seperti inilah saya merasa menangis adalah kebahagiaan luar biasa tiada tara. Rasanya jiwa ini bisa bersatu dengan Allah Tuhanku.

4. Melihat almamater dimana saya pernah sekolah. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya jika saya mengingat tempat saya sekolah dulu, baik sekolah SD MI, SMP MTs, SMA MAN dan sewaktu kuliah saya selalu merasa sedih dan rindu. Mungkin perasaan rindu dan menyesal kenapa dulu tidak pernah belajar dengan rajin itulah yang membuat hati ini ingin menangis.

5. Melihat ibu menangis. Ini yang paling tidak kuat. Hati serasa teriris setiap kali melihat ibu menangis. Makanya jika ibu saya menangis saya malah tidak berani mendekat. Saya tidak sampai hati mendengar isakannya.


Melakukan Hal-hal Ringan Itu Penting ?

Kalau hal-hal berat tidak bisa dilakukan, mengapa tidak melakukan hal-hal ringan saja… asal tetap membawa manfaat.

bulu itu ringan tapi bisa menerbangkan burung (jalaindra.wordpress.com)

Yup, kita kadang terlalu terobsesi dengan hal-hal berat yang bahkan membuat hidup kita menjadi bertambah berat. Ingin melakukan sesuatu yang kadang diluar kemampuan yang kita miliki. Berlagak ingin merubah sesuatu yang besar padahal merapikan kamar tidur saja tidak bisa. Hmm.. ada yang tersindir, tapi begitulah adanya.

Keinginan adalah sumber penderitaan. _Iwan Fals

Jika ingin hidup lebih bahagia, coba kurangi keinginan karena keinginan adalah sumber penderitaan.

Nampaknya ungkapan itu ada benarnya. Segala yang membuat hidup menjadi lebih menderita adalah karena banyaknya keinginan sehingga membuat hidup tidak terkonsentrasi pada hal-hal yang justeru menjadi kebutuhan. Istilahnya, bedakan antara keinginan dan kebutuhan karena tanpa tau perbedaan itu, kita hanya akan menjadi budak dari keinginan kita sendiri.

Mengurangi keinginan bisa menjadi hidup menjadi lebih bahagia. Yakin… ? cobalah!

Semua karena harta…

Mestinya kita yang mengombang-ambingkan harta, bukan harta yang mengombang-ambingkan hidup kita.

Ada kalanya kita menjadi semakin jauh dari tujuan hidup yang sebenarnya. Kita mencari sesuatu atau lebih tepatnya ‘harta’ dengan penuh semangat dan ambisi. Akhirnya kita tidak  sadar bahwa kita sebenarnya budak dari harta itu. Harta telah menguasai hidup kita seperti gurita yang mencengkeram seekor kepiting. Ketika kita ingin melapaskan dari cengkeraman itu diri kita sudah setengah hancur atau bahkan sudah hancur sama sekali.

Sebenarnya apa hal-hal berat yang menambah bahan stress dari pikiran kita ?

Hal-hal berat itu bisa apa saja. Sesuatu yang kita lakukan hanya karena ingin seperti orang lain adalah contoh hal-hal berat itu. Kita menjadi semakin agresif dengan hidup kita sendiri dan memaksakan sesuatu yang sebenarnya bukan kemampuan kita. Atau istilah kasarnya mengada-adakan sesuatu yang tidak ada. “loh, kamu itu bukan ahli dibidang sosial kok mau menulis dan membahas masalah sosial, ya gak nyambung”. Sebuah ungkapan yang mungkin perlu untuk direnungkan. Itu hanya contoh kecil dalam dunia tulis menulis.

Lalu bagaimana jika hal-hal yang ternyata berat tidak harus kita lakukan ?

Pilihannya hanya satu, lakukan hal-hal ringan saja. Siapa tau justeru akan menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Melukis, bermusik, ikut kumpulan grup musik tertentu bisa jadi hal ringan yang bisa meredakan tingkat stress karena lelah melakukan hal-hal berat. Barangkali nraktir teman-teman sekerja makan di warung lesehan yang murah juga bisa dibilang hal ringan, karena biasanya anda makan di restoran mewah, misalnya.

Tulisan saya ini adalah tulisan ringan karena saya tidak bisa menulis dengan tema yang berat. Hei… adakah yang takut menulis karena takut dianggap tidak berbobot ?

Kalau begitu tulis saja hal-hal ringan dalam hidup anda, siapa tau saya bisa belajar banyak dari tulisan anda.

———

*sekedar sharing bahan renungan


Ada Korupsi Di Warung Nasi

Korupsi, mengambil suatu manfaat dengan tujuan menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain, bagaimanapun bentuknya adalah mencuri.

Saya masih ingat dengan seorang teman yang sangat benci dengan korupsi, walaupun cakupan korupsinya kecil, terjadi di warung nasi.

Apa pasal ?

Teman saya suka sekali minuman dingin yang dicampur es, akan tetapi sering kecewa dengan pemilik warung karena korupsi tadi. Pemilik warung sengaja memberi porsi es batu lebih besar dibanding porsi air minumnya. Walhasil ketika minuman sudah habis, es batu itu masih kelihatan besar dan yang bikin kesel teman saya, es batu itu dijual lagi kepada pembeli lain. Begitulah teman saya mengamati korupsi yang terjadi di warung nasi.

Memang tidak salah seseorang mencari keuntungan yang besar. Tapi jika sudah merugikan orang lain, itu namanya tidak adil. Masa iya, minum es teh dua teguk sudah habis, yang tersisa hanya bongkahan es batu yang besar sebesar isi gelas itu.

Korupsi sudah menjadi bagian dari budaya yang sulit diberantas. Motifnya bermacam-macam, ada yang ingin kaya dengan cepat, ada yang memang hobi mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan orang lain. Korupsi tidak hanya terjadi dalam birokrat, tetapi sampai rantai kehidupan terkecil seperti warung nasi pun bisa terjadi korupsi.

Nah, karena korupsi sudah mengakar dengan kuat, maka tidak ada jalan lain untuk memberantasnya kecuali mencabut akar itu. Bukan korupsinya yang di berantas tapi budayanya yang harus diberangus. Perlunya pendidikan sejak dini ditanamkan kepada para generasi, bahwa korupsi itu tidak hanya mengambil uang rakyat saja. Bahwa korupsi itu tidak melulu terjadi didalam kehidupan para pejabat.

Lalu mungkinkah korupsi bisa hilang dari muka bumi ? tentu tidak. Seperti pencuri yang tak mungkin bisa lenyap dari bumi ini. Akan tetapi kebiasaan korupsi, budaya mengambil secara massal suatu saat bisa diminimalisir. Caranya, dengan menanamkan nilai-nilai budaya yang anti korupsi kepada generasi penerus.

Mungkin kalau warung nasi tadi mengerti isi hati teman saya, bagaimana kesalnya melihat air di gelasnya habis hanya dalam dua tegukan, mungkin saja beliau bisa berhenti dari korupsi.


Mungkin Saatnya Kita Meniru Semar

Apalah arti sebuah gelar dan kepintaran jika tidak bisa menjadi pelayan yang baik bagi masyarakat

Apalah arti kharisma dan kemuliaan jika tidak bisa menjadi amal baik untuk kehidupan akhirat

Mungkin saat ini sebagian kita banyak yang lupa bahwa sejatinya hidup adalah sebagai pelayan. Pelayan bagi diri sendiri, orang-orang sekitar dan masyarakat pada umumnya.

Seorang penjual nasi pecel rela bangun sebelum subuh demi melayani para pekerja yang berangkat pagi buta. Penjual itu rela kedinginan mempersiapkan segala macam pernak-pernik masakan demi orang-orang yang membutuhkan sarapan.

Seorang pencari rumput rela kulitnya gatal-gatal demi mendapatkan rumput terbaik demi hewan ternaknya. Pencari rumput itu memberikan makan sapi-sapinya dengan sepenuh hati agar peliharaannya menjadi gemuk dan kelak dagingnya bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Seorang polisi, seorang jendral, seorang presiden, seorang anggota dewan, wartawan, redaktur, politisi, jaksa, hakim dan banyak profesi lainnya sejatinya adalah pelayan. Mereka pelayan bagi masyarakat yang memberikan amanat baginya. Yah, baginya. Kata “baginya” adalah bentuk kepercayaan masyarakat yang lekat dan tidak main-main. Wujud dari sebuah harapan dan titipan yang tidak layak untuk dipermainkan. Sungguh tidak dapat dipermainkan.

Saat ini rasanya banyak orang sudah mulai bosan menjadi pelayan. Rakyat sudah mulai bosan menjadi rakyat karena para pelayannya tidak bisa diharapkan lagi. Pejabat sudah mulai bosan menjadi pejabat. Pejabat plesiran kemana-mana sedang rakyat sebagai majikannya menderita. Yang lebih aneh dari semua adalah ada tukang garong duit majikan, sudah ditahan masih bisa melenggang nonton sebuah pertandingan, padahal pertandingan itu digelar bermil-mil jauhnya dari tempatnya ditahan.

Mungkin memang sudah waktunya nilai-nilai filosofi hilang entah kemana. Kita tidak bisa lagi membedakan mana majikan, mana pelayan. Mana yang harus dilayani dan mana yang harus melayani. Rasanya kita memang sudah terlalu naif, melihat segala kemungkaran malah kita menjadi bagian dari kemungkaran itu. Kita melihat berbagai penyimpangan, tapi diam-diam kita yang menyuburkannya. Kita teriak-teriak berlagak seperti majikan padahal sebenarnya kitalah pelayan itu. Aneh memang, dunia yang sudah carut-marut didepan mata seperti ini masih kita biarkan. Kita hanya bisa omong kosong besar kepala. Tangan kita kepal dengan gerutuan sekeras suara kereta lewat, namun ketika kita ketiban senyum dari para pesohor negeri ini kita menjadi mabuk kepayang.

Bumi gelisah, mendung hitam pekat, awan yang biasanya putih sudah tidak mau kompromi lagi. Laut begemuruh seperti ingin berlomba menyiram tanah yang sudah terasa panas oleh pendosa. Kolong langit sudah tidak bisa lagi membedakan mana pendosa mana pelaku amal baik karena semua memang sudah tidak bisa dibedakan lagi.

Mungkin sudah waktunya kita kembali kepada filosofi hidup kita masing-masing. Hidup sebagai bagian dari alam, yang ikut menjaga, merawat dan memanen dengan baik, tanpa keserakahan, tanpa kemunafikan. Mengaku bahwa kita semua adalah pelayan yang mempunyai peran dan tugas masing-masing.

Mungkin sudah saatnya kita meniru Semar. Semar adalah seorang kawula yang kharismatik. Seorang pelayan yang wujudnya sangat bersahaja. Semar bisa menjadi pengayom yang menyejukkan. Tidak pernah berteriak untuk memberi perintah tetapi memberikan konsekuensi dari nasehatnya.

Semar selalu meletakkan tangan kanannya menunjuk keatas bukti atas ketundukan kepada Tuhan, sedang tangan kirinya kebelakang sebagai petunjuk untuk menghormati dan berpasrah total kepada segala yang sudah diberikan oleh yang maha tunggal, sekaligus sebagai penunjuk bagi simbol keilmuan yang rendah hati, netral dan simpatik.

Semar sebagai pelayan ummat yang melayani tanpa pamrih dengan berpatokan amal baik sebagai amanat yang diberikan oleh yang maha kuasa.

Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua

Tidak seperti kita yang kadang muka sudah keriput namun kelakuan masih seperti kanak-kanak.

 

Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan

Kita kadang sering kebanyakan tertawa dan mentertawai tapi tidak pernah menangis. Padahal menangis bisa melembutkan hati yang keras dan bernoda.

 

Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa

Sebaliknya kita berwajah tanpa dosa dengan mulut tanpa ekspresi, sedangkan hati kita tertawa terbahak-bahak melihat orang lain bersedih

 

Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok

Kita selalu sering berdiri tegap, tidak pernah berusaha berlutut didepan yang maha kuasa sehingga kaki kita kaku, badan kita menjadi angkuh, tidak seperti semar yang bisa menunjukkan dirinya antara kekuatan fisik dengan ketundukan kepada Tuhan dengan sikap jongkok.

 

Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya

Kita kadang terlalu banyak menyuruh ini itu, sedangkan kita tidak pernah menyadari akan konsekuensi dari apa yang kita perintahkan. Kita tidak bisa menggunakan bahasa diplomatis yang lembut namun memberikan kekuatan untuk mereka yang merasa bersalah. Semar begitu bersahaja, namun sangat dihormati karena bisa menempatkan dirinya sebagai pelayan bagi masyarakat sekaligus sebagai contoh bagi perilaku yang arif dan bijaksana.


Kehidupan

siswi sekolah pondok pesantren babussalam kalibening

Lima tahun lalu sesekali saya berdiri didepan siswa-siswi yang berjejer persis seperti yang ada di foto ini. Tempat dan tanahnya masih sama. Saya bersama para jajaran guru berdiri berderet ditempat yang dinaungi atap sekolahan, tidak seperti anak-anak ini yang kadang rela kepanasan. Setelah acara upacara selesai kami semua berdo’a bersama mengharap kebaikan dari yang maha pencipta.

Saat ini setelah lima tahun berlalu saya seperti orang asing yang ditinggalkan sekawanan burung untuk berhijrah. Padahal sayalah yang berhijrah meninggalkan mereka. Waktu itu saya memutuskan untuk berhenti mengajar demi sebuah kehidupan yang lebih baik. Dengan tangisan ibu saya, saya tinggalkan negeri yang damai menuju tempat yang jauh yang dikatakan orang sebagai “negeri perantauan” Kalimantan. Dan sekarang di Jakarta. Terlalu panjang jika diceritakan semua.

Ternyata konsekuensi dari keputusan besar yang pernah saya ambil tidak seenak yang saya bayangkan. Nyatanya diam-diam saya kangen dengan suasana seperti yang ada di gambar atas. Kadang saya sampai menitikkan air mata melihat tempat saya dulu mencari ilmu dan mengabdi sebagai guru selama empat tahun lamanya. Ingin rasanya kembali memiliki “kehidupan” yang nyaman, tentram dan damai seperti saat-saat saya menjadi guru. Kangen dengan sopan santun murid-murid yang dengan suara lembut menyapa gurunya di jalan. Juga kelembutan “rekan-rekan” guru yang tak lain adalah bapak dan ibu guru saya sendiri sewaktu saya berstatus sebagai murid.

Yah, itulah kehidupan. Kita tak kan pernah tahu arah yang akan diberikan oleh Allah. Dalam hidup, apa yang diyakini benar harus ditempuh walaupun ada konsekuensi dibelakang nanti. Saya tidak pernah menyesal pernah mengambil keputusan besar itu. Apapun yang sudah terjadi adalah sebuah takdir yang sudah ditentukan jauh-jauh hari sebelum ruhku ditiupkan dalam jasad. Jauh sebelum saya menjadi murid, guru dan sekarang entah menjadi apa. Saya lebih suka menyebut diri saya sekarang sebagai “pejuang hidup”. Dengan beraninya tinggal di negeri orang, di kawasan kota yang katanya kota paling kejam di Indonesia, bahkan lebih kejam dari ibu tiri. Di kota ini saya mempertaruhkan nasib dengan iringan takdir yang entah seperti apa nantinya.

“Kehidupan”, sebuah kata yang sederhana, namun sangat berliku jika sudah diselami maknanya. Ada orang bijak berkata,pergilah dari tanah kelahiranmu, tinggalkan semua kemewahan dan kenyamanan yang selama ini kau dapat agar kau bisa mengenal apa yang dinamakan kehidupan itu“.

Inilah saya yang sedang menyelami arti dari kata “kehidupan” sesungguhnya, dan rupanya lamat-lamat aku mulai tahu apa kehidupan itu. Ternyata kehidupan itu seperti gentong yang didalamnya tidak terdapat banyak cahaya, saya harus sedikit membelalakkan mata untuk menemukan sesuatu yang tersimpan dalam gentong itu. Lambat laun saya mendapatkan satu persatu yang selama ini saya cari dan tidak pernah saya temukan diluar gentong itu. Gentong itu gelap tapi menyimpan banyak makna yang masih tersembunyi didalamnya. Sampai saat ini saya masih terus mencari.

Jakarta, 29-10-2010, 22:33 wib. masih dalam suasana kerja.


Kebahagiaan Semu

Banyak orang yang menganggap arti dari kebahagiaan semu adalah kebahagiaan sesaat. Kalau kita menyadari apa yang ada di dunia ini, pasti kita juga akan mengerti bahwa kebahagiaan itu memang hanya sesaat. Orang yang melakukan kesenangan dengan cara melakukan apa yang dia sukai akan menimbulkan kebahagiaan. Itu juga bisa dianggap kebahagiaan semu. Karena waktu untuk menikmatinya pastilah tidak akan abadi.

“Kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa dimunculkan dari diri sendiri.” Betul, tetapi kenapa masih ada orang yang berusaha memunculkan kebahagiaan dari dirinya tetap tidak merasakan kebahagiaan itu ?

Jawabannya karena kebahagiaan memang sesuatu yang misteri. Ada orang yang kemana-mana naik sepeda dengan dihiasi semilirnya angin. Kemanapun dia pergi; ke tempat kerja, rekreasi dan jalan-jalan selalu naik sepeda. Dia mengatakan “akulah orang yang bahagia”. Berbarengan dengan itu ada seorang yang mengintip dari balik jendela kaca mobil BMWnya dan mengatakan “dasar orang sinting”.

Begitulah kebahagiaan yang dilihat dari persepsi orang masing-masing. Apakah sesorang yang sedang naik mobil BMW tadi termasuk orang yang bahagia ? belum tentu. Bisa jadi dia sedang pusing memikirkan bagaimana mencari uang untuk tagihan kredit bulan depan. Atau bisa jadi orang itu adalah benar-benar orang yang bahagia karena berhasil mewujudkan keinginannya (memiliki mobil BMW) yang dipendam sejak dua puluh tahun yang lalu.

Saya ingat ketika dulu masih mempunyai televisi satu channel dan acara-acara yang saya sukai saat SD mungkin tidak ditemukan lagi di channel-channel tv manapun saat ini. Tapi kenapa waktu itu saya tetap merasa bahagia dan senang-senang saja. Apakah ketika melihat anak-anak jaman sekarang yang menikmati play station, game online bahkan bisa berinternet ria lalu saya menjadi iri ? Tidak. Padahal hiburan jaman sekarang lebih banyak dan bertambah maju. Saya tetap menyukai kebahagiaan yang sudah saya rasakan saat masih kecil.

Sebenarnya dimana letak semunya karena sekarang saya masih tetap bahagia pernah dilahirkan di generasi dimana televisi masih satu channel. Saya masih bisa bercerita panjang lebar bersama teman-teman masa kecil saya sambil tertawa-tawa menceritakan pengalaman kami bersama teman-teman.

Mungkin juga anak-anak sekarang akan merasakan hal yang sama saat mereka sudah dewasa nanti. Mereka akan tertawa terbahak-bahak menceritakan saat mereka bisa menyamar menjadi orang lain di akun facebook miliknya. Atau mendapatkan pacar hayalan di internet hasil dari berchating ria. Itulah kebahagiaan. Apakah itu kebahagiaan semu ? mungkin iya, mungkin tidak.

Ada orang yang bisa menciptakan kebahagiaan, ada juga orang yang merasa hidupnya tidak pernah bahagia. Ada orang yang merasa biasa-biasa saja. Tapi satu yang pasti dimana kebahagiaan itu bisa disebut kebahagiaan hakiki, yaitu ketika seseorang sudah bisa mensyukuri hidupnya, bersyukur atas apa yang telah diperolehnya walaupun itu kecil. Itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.