Tautan Emosi dan Pikiranku

cinta

Ketika Cinta Salah Sasaran

Malang nian nasibmu, kawan…
Ketika cinta datang tak diundang
Engkau mendayu-dayu
Memuji dengan sepenuh hati
Menulis puisi untuknya
Dengan kata-kata terindah tak terkira

Tapi ternyata cintamu salah sasaran
Cintamu tak lebih dari obsesi belaka
Tak lebih dari pemuja kulit mulus
Dan penikmat dada montok

Ah, apalah daya…
Cintamu sudah jelas salah sasaran
Apalagi yang kau harap
Senyumnya…
Suara nyaringnya…
Atau sekedar tubuh seksinya…

Begitulah cinta
Dia datang dengan samar
Diapun pergi tak terlihat

Sekarang mulutmu berdesis
Dengan hati sepanas api
Relakan saja, kawan…
Cintamu telah pergi

Advertisements

Islam Saya Adalah…

 

Don´t hate it, 1/3 of the world´s population are muslims. If they all would be so bad, some people and media wanna tell us, we were all dead already. What you see on the picture is a part of the surah "Al-Hadid" - The Iron. By: Malik Braun

Islam bagi saya adalah agama,  petunjuk bagi jalan yang suram berkelok-kelok menuju jalan yang terang benderang dan lurus.

Islam saya adalah Islam yang lentur. Lentur ? tentu lentur sesuai dengan pemahaman kacamata saya sendiri.

Islam saya adalah Islam saja. Islam bagi saya bukan fanatisme. Islam saya adalah islam, dimana saya berusaha mentaati perintah Allah, seperti shalat, puasa, shadaqah dan lain-lain. Saya berusaha untuk shalat lima waktu walaupun kadang-kadang bolong karena kelalaian dan kesengajaan. Saya tidak menyalahkan syaitan. Islam yang ada pada diri saya melekat sejak kecil. Bagi saya syaitan adalah musuh yang nyata. Ketika saya lena maka sayalah yang harus dihukum. Untuk syaitan biarlah Tuhanku yang memberi keputusan.

Islam saya islam yang sederhana. Islam sebagai penuntun dalam kehidupan yang tidak pasti. Islam saya tidak pernah membebani. Walaupun tidak membebani, saya tidak pernah main-main dengan islam saya. Saya tetap selalu harus berwudhu sebelum shalat. Saya ikuti aturan ruku-rukun saat shalat, begitu juga ibadah-ibadah yang lain.

Islam saya tidak pernah memaksa. Islam saya adalah islam yang menganjurkan seruan dan ajakan bukan paksaan. “saya mau shalat dulu, mau ikut?” Islam saya islam yang menasehati dengan pertanyaan dan senyuman. “kapan mulai shalat?” atau “eh, lagi puasa gak? kenapa gak puasa?”.

Islam saya islam sosial. Islam yang bergaul dengan siapa saja. Islam saya tidak pernah memilah-milah. Bagi islam saya, semua manusia sama. Islam saya tidak pernah mengadili akhlak seseorang. Ahklak mereka urusannya dengan Tuhan.Islam saya bukan negara. Biarlah negara yang mengadili akhlak yang merugikan sesama.

Islam saya islam yang cinta estetika. Islam saya suka dengan keindahan. Dengan keindahan, saya belajar mengenal Tuhan. Dengan keindahan, Islam seperti oase yang menyejukkan. Islam saya berusaha menjadikan diri saya nyaman bersanding dengan siapapun dan berusaha membuat nyaman kepada siapapun yang bersanding dengan saya. Islam saya bukan islam intimidasi. Islam saya adalah islam yang cinta kedamaian.

Islam dan saya adalah berbeda. Saya adalah manusia, sedangkan Islam adalah ajaran Tuhan. Kadang islam yang melekat dalam diri saya saya abaikan dan dosa-dosa pun membuat saya malu pada Tuhan. Itulah islam yang ada pada diri saya, maka saya tidak berhak menghardik seseorang dan mengecam dengan cemoohan. Bagaimana mungkin saya menganggap orang lain calon penghuni surga ataupun neraka, sedangkan diri saya sendiri tidak tahu nasib saya di akhirat kelak.

Islam saya tidak bisa menuding seorang pelacur adalah ahli neraka dan seorang ulama adalah ahli surga. Islam saya percaya bahwa Tuhan punya cara sendiri dalam menuangkan cinta pada semua makhlukNya. Tuhan mempunyai cara yang unik dalam menunjukkan kekuasaaNnya. Itulah maka islam saya tidak punya hak sedikitpun untuk menebak nasib seseorang kelak di akhirat.

Islam saya adalah islam yang damai. Bagaimana dengan islam anda ?


Cinta, Bahasa yang Susah Diterjemahkan

“CINTA”
Bahasa yg susah diterjemahkan
tidak cukup hanya dengan uang 100ribu rupiah
sekarang, aku ingin menatap masa depan, (titik)

Engkau mentertawakanku seperti melihat seorang pelawak yang sedang melucu
Tidak tahukan engkau bahwa perkataanku bukan gurauan
Tapi apalah artinya, engkau tidak akan percaya
Walaupun aku mengatakan dengan benar
Bahwa aku masih sendiri

Mungkin saja engkau sekarang sedang tertawa
Bertanya-tanya
Mengapa aku begitu pemurah padamu
Tanpa curiga sedikitpun
Atau mungkin ada sedikit kecurigaan itu
Tapi engkau berusaha menepisnya

Ternyata cinta memang lucu
Tidak cukup hanya dengan pandangan mata
Bahasa tubuhku tidak menjamin
Bahwa kau mengerti kerlingan mataku
Tapi suatu saat aku berharap
Engkau akan sadar
Bahwa aku selalu ada ketika engkau butuh

Cinta memang lucu
Tidak cukup hanya dengan uang 100 ribu rupiah
Kau tetap tidak akan percaya
Bahwa pengorbanan itu tidak melulu atas dasar kemanusiaan
Temanku bilang “itulah cinta… tanpa menghitung walau sebenarnya aku pun ingin untung


Ketika Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

teriakanmu tak dapat aku hentikan

saat tangan jahil menggodamu

apalah dayaku

aku bukan kekasihmu

engkau bercerita tentang kekasihmu

aku hanya bisa tersenyum

karena aku tak ingin terlihat cemburu

ketika engkau pergi dari hadapanku

aku hanya bisa melihatmu menjauh

tanpa bisa berkata apa-apa

aku memang bukan kekasihmu

engkau cerita tanpa beban

tentang hidupmu

tentang mimpimu

tentang kesenanganmu

tentang semua

aku hanya bisa mendengarmu dengan seksama

karena aku tak ingin pergi dari dekatmu

aku hanya ingin melihat wajahmu

aku hanya ingin mendengar suaramu

walau itu semakin membuatku sakit

ketika engkau tak ada

hati ini belingsatan

kangen tak karuan

ketika engkau datang

perasaan jadi tak menentu

ingin bersikap biasa

tapi tak bisa

ingin berkata sewajarnya

tapi mulut jadi bungkam

engkau bersikap manja

aku biasa saja

engkau merajuk

aku tak sanggup menolak

engkau marah

aku hanya bisa bersedih

engkau menangis

aku tak bisa menghapus air matamu

apalah dayaku

aku bukan kekasihmu

aku hanya bisa memberi

aku tak kuasa meminta

merayumu adalah hal konyol

mengharapkanmu adalah suatu kebodohan

seberapa banyak orang akan menyakitimu

sebanyak itu pula aku akan tersakiti


Hakikat Cinta

Cinta adalah sesuatu yang sangat sulit di definisikan. Begitu luasnya arti cinta sehingga setiap orang mempunyai jawaban sendiri-sendiri tentang definisi cinta. Banyak orang yang tidak mengerti apa itu cinta. Banyak juga orang yang hanya bisa merasakan kehadiran cinta tapi tak bisa menggambarkannya. Cinta adalah sesuatu yang universal. Seseorang dipersilahkan memiliki sendiri tentang arti dari cinta.

Menurut saya sendiri, cinta itu sesuatu yang ada dalam diri kita saat kita merasa membutuhkan dia. Cinta bisa datang dan juga bisa berlalu tanpa permisi. Cinta adalah perasaan rindu jika lama tak bertemu dan merasa sayang jika obyek dari cinta itu menjauh.

Cinta adalah perasaan meletup-letup dalam jiwa yang kadang berhenti, namun kadang bergejolak tanpa bisa kita kendalikan. Cinta sangat berenergi hingga ketika sampai puncaknya akan menguasai seluruh tubuh ini dengan kadar emosi yang tak bisa dibendung. Cinta bisa membuat diri menjadi sangat kuat sehingga mampu merobohkan tembok tebal keangkuhan.

Cinta itu layaknya iman, kadang naik kadang turun, bahkan cinta sejati sekalipun. Cinta adalah kekuatan bagi jiwa-jiwa yang lemah. Cinta itu seperti pohon rindang berbuah lebat yang bisa memberi manfaat bagi makhluk disekelilingnya. Cinta itu menyejukkan dan mendamaikan.

Cinta tak membutuhkan rasa kasihan. Cinta adalah ketulusan tanpa meminta pengembalian. Cinta itu suci, sesuci cawan dari surga. Cinta adalah bahasa hati yang disampaikan melalui tingkah laku dan budi pekerti.

Cinta adalah kelemah lembutan. Cinta mempunyai struktur yang halus, tak dapat diraba namun bisa dirasakan dengan hati. Cinta adalah kemanjaan yang selalu membutuhkan perawatan.

Begitu banyaknya definisi cinta hingga aku tak sanggup menguraikan semuanya. Mungkin jika langit dan bumi diisi dengan kata-kata yang mendefinisikan arti cinta, tak akan muat dan tak akan sanggup menampungnya. Cinta adalah ruh suci yang dipancarkan dari nur Illahi. Cinta adalah pengembara yang hinggap dari satu raga ke raga lainnya. Cinta itu seperti cahaya, sanggup menelusup kedalam ruang dan waktu.

Cinta adalah kejujuran tanpa paksaan. Cinta memberikan sandaran bagi jiwa-jiwa kesepian. Cinta adalah pengampunan bagi jiwa-jiwa yang berdosa. Cinta adalah pemaaf bagi raga yang bersalah. Cinta tak pernah pilih kasih. Cinta selalu melihat sisi lain dari dunia, tanpa memihak, tanpa memilih, tanpa membeda-bedakan. Cinta bisa hadir kepada setiap individu.

Cinta adalah penyeimbang bagi jiwa yang gelisah. Cinta laksana cambuk dan tali kekang alami yang bisa menghentikan nafsu liar tak terarah. Cinta bukan ilusi. Cinta adalah nilai hakiki dari adanya ruh dalam diri manusia.


Jiwa Jiwa Yang Kesepian

Wajahku pucat pasi
Melihat dengan lensa ciptaan Tuhan yang terlihat mengembun
Mungkin karena air mataku sedikit hangat
Hingga air itupun menguap dari nozzle menjadi butiran halus
Dan menempel pada kaca elastis didepan mataku ini

Aku tertunduk lesu tidak tahu apa sebabnya
Air mataku tak henti-hentinya mengikuti atmosfir yang telah dibentuk oleh alam
Jatuh menelusuri permukaan sel kulit dalam untaian mikroskopik
Dari lensa okuler terlihat seperti daratan berair yang penuh dengan jurang terjal dan curam

Aku ingin berteriak memanggilmu
Tapi tak perlu
Mungkin saat ini engkau sedang berada disampingku
Atau setiap hari mengawasiku
Karena engkau adalah jiwa dari jasad yang sedang menungguku

Jiwa itu seperti cahaya
Tidak bisa dibendung
Bisa terbias kemanapun dia mau
Bahkan merasuki mimpi ketika jasad sedang terlelap

Aku pernah mimpi melihat bulan
Yang warnanya putih keabu-abuan
Mungkin saat itu engkau sedang disana
Menungguku untuk menjemputmu
Aku rasa bayanganmu menutupi matahari
Hingga warna bulan tidak menarik lagi

Jika saja kau tau aku sekarang sedang apa
Mungkin kau akan rela meninggalkan bulan itu
Atau jika saja aku tau engkau sedang apa
Mungkin aku akan berusaha menjemputmu

Mungkin…!

Jakarta, ‘10


Puisi Cinta

 

Nasib bukan takdir

Aku tidak akan berusaha mengubahnya

Tidak juga berusaha menghindarinya

Menghindari tidak mungkin

Tawa renyahnya selalu membuat hariku tentram

Aku takut dengan sorot matanya

Tatapan matanya tidak pernah mau menunduk

Seperti ingin menyelidiki

Sendu dan seperti ingin menangis

Semakin dalam kutatap semakin dalam juga tatapannya